Mau Aman? Ayo Perketat Protokol Kesehatan Saat Libur Lebaran

News - Yuni Astutik, CNBC Indonesia
05 May 2021 11:10
Beberapa warga sedang menunggu angkutan umum dengan latar belakang replika peti mati dan papan imbauan waspada Covid-19 di kawasan Pasar Tanah Abang, Jakarta, Selasa (1/9/2020). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Instalasi replika peti mati dan papan imbauan waspada COVID-19 di sejumlah lokasi dimana DKI Jakarta masih menjadi wilayah tertinggi penyebaran. Hingga 1 September 2020 kasus terkonfirmasi COVID-19 nasional telah mencapai 177.571 kasus. Jumlah kasus positif di Jakarta 40.987, bertambah 901 per hari ini (1/9/2020).   

Masih banyak warga yang kurang sadar pentingnya menggunakan masker, dan jaga jarak diruang publik.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kasus Covid-19 di Indonesia tercatat naik pada akhir April 2021 di mana faktor utamanya karena lalai menegakkan protokol kesehatan. Misalnya di tempat umum yang menyebabkan klaster baru seperti perkantoran, klaster saalat tarawih, takziah, dan mudik ke kampung halaman. Angka penularan yang menurun dari Februari hingga Maret dikhawatirkan kembali meningkat apabila tidak dikendalikan.

"Kita melihat kasus konfirmasi positif Covid-19 meningkat. Kita melihat juga sampai minggu keempat April 2021 kematian akibat Covid-19 juga meningkat, ada juga peningkatan kasus yang dirawat di rumah sakit," ujar Juru Bicara Vaksinasi COVID- 19 Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmizi M.Epid, dalam Dialog Produktif bertema Waspada Peningkatan Klaster Baru, yang diselenggarakan KPCPEN, Selasa (4/5).

Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian, apalagi sebentar lagi pada akhir Ramadhan merupakan musim mudik. "Kita bisa melihat masyarakat masih ada yang mulai mudik terlebih dulu. Padahal kalau berkaca kejadian di India, melonggarnya protokol kesehatan, terutama pada perayaan keagamaan menyebabkan terjadinya ledakan kasus yang cukup besar," terang dr. Nadia.


"Jangan sampai kita menjadi sumber penularan atau korban penularan dari orang lain. Sehingga menyambut Idul Fitri nanti kita harus perketat protokol kesehatan demi terhindar dari kesakitan dan kematian," imbuhnya.

Sementara itu Indonesia juga masih perlu melakukan proses panjang dalam membentuk herd immunity bagi 181,5 juta penduduknya. Program vaksinasi pemerintah yang menyentuh angka 20,4 juta pada 3 Mei lalu masih belum saatnya untuk dirayakan atau memberikan rasa aman berlebihan kepada masyarakat sehingga mengabaikan protokol kesehatan.

"Euforia vaksinasi terus kita tekan, dan selalu kita informasikan kepada setiap orang yang divaksinasi bahwa kita masih dalam masa pandemi, sehingga vaksinasi saja tidak cukup memberikan perlindungan. Tentunya harus melaksanakan protokol kesehatan," katanya lagi.

Anggota Satgas Penanganan COVID-19 Subbidang Mitigasi, dr. Fala Adinda, juga mengingatkan bahwa pandemi ini masih akan terus berlangsung. "Terlebih lagi dengan adanya mutasi virus baru, jangan sampai kita mengikuti negara tetangga yang sudah memasuki gelombang ketiga, dan diikuti dengan kasus baru yang melonjak," ujarnya.

"Longgarnya protokol kesehatan yang terjadi di sekeliling kita sebenarnya menjadi semacam lampu merah. Walaupun sudah ada program vaksinasi jangan sampai protokol kesehatan ini menjadi longgar," terang dr. Fala.

Untuk itu dia meminta semua elemen bangsa untuk mengingatkan sesama agar tidak jenuh dengan kondisi saat ini, "Kita harus kembali lagi kepada individu masing-masing. Maukah terus menjalankan protokol kesehatan, jangan terlena dengan penurunan curva atau kejenuhan karena pandemi sudah berjalan lebih dari satu tahun," pungkasnya.


[Gambas:Video CNBC]

(yun/yun)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading