May Day! 50 Ribu Buruh Beraksi, Merapat Turun ke Jalan Today

News - Chandra Gian Asmara, CNBC Indonesia
01 May 2021 08:44
Buruh berdemo di kawasan Patung Kuda, Jakarta, Senin (12/4/2021). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kalangan buruh yang tersebar dari berbagai wilayah Indonesia akan menggelar aksi besar-besaran besar-besaran hari ini, sebagai peringatan Hari Buruh Internasional alias May Day, Sabtu (1/5/2021).

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal mengemukakan massa buruh dari organisasinya yang berpartisipasi pada May Day kali ini mencapai 50 ribu orang.

"Mereka tersebar di 3.000 perusahaan/pabrik, 200 kabupaten/kota, dan 24 provinsi," kata Said Iqbal dalam keterangan resmi, Sabtu (1/5/2021).

Mereka berasal dari DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Bengkulu, Riau, Kepulauan Riau, Aceh, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Barat, Gorontalo, Sulawesi Selatan, hingga Maluku.

KSPI mengklaim aksi buruh yang akan dilakukan serentak di berbagai daerah akan tetap mengikuti protokol kesehatan sebagai salah satu upaya pengendalian wabah Covid-19.

Selain itu, aksi May Day juga akan diikuti sejumlah elemen mahasiswa dari berbagai kampus ternama seperti BEM ITB, UNJ, Unand, dan sebagainya. KSPI, pun mengaku sudah berdiskusi dengan pengurus BEM SI dan KAMMI.

"Mahasiswa dan buruh akan bergerak bersama untuk menyuarakan satu tuntutan yang sama, yaitu penolakan terhadap omnibus law UU Cipta Kerja," tegasnya.

Khusus di Jakarta, buruh akan melakukan aksi di tiga titik yaitu Istana Negara, Gedung Mahkamah Konstitusi, dan sekitaran Patung Kuda.

"Berapa jumlah buruh yang dibolehkan aksi di Istana, di Gedung MK dan juga di sekitaran Patung Kuda? Tentu menunggu hasil koordinasi dengan aparat keamanan, tetap kita harus penuhi protokol kesehatan," terang Said

Said mengatakan, pihaknya berkoordinasi dengan aparat keamanan terkait jumlah massa yang diperbolehkan melakukan aksi. Tujuannya mereka ingin tetap mematuhi protokol kesehatan.

"Pemerintah pasti tujuannya baik melarang kerumunan itu kan agar tidak menimbulkan klaster baru, atau meningkatkan angka positif, kami setuju itu," ucapnya.



[Gambas:Video CNBC]

(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading