Properti Berdarah-darah di 2020, Gimana Nasibnya Tahun Ini?

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
22 April 2021 20:22
Awal Desember 2017, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mencatat capaian Program Satu Juta Rumah sebanyak 765.120 unit rumah, didominasi oleh pembangunan rumah bagi  masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sebesar 70 persen, atau sebanyak 619.868 unit, sementara rumah non-MBR yang terbangun sebesar 30 persen, sebanyak 145.252 unit.
Program Satu Juta Rumah yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo, sekitar 20 persen merupakan rumah yang dibangun oleh Kementerian PUPR berupa rusunawa, rumah khusus, rumah swadaya maupun bantuan stimulan prasarana dan utilitas (PSU), 30 persen lainnya dibangun oleh pengembang perumahan subsidi yang mendapatkan fasilitas KPR FLPP, subsisdi selisih bunga dan bantuan uang muka. Selebihnya dipenuhi melalui pembangunan rumah non subsidi oleh pengembang.
Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Junaidi Abdillah mengungkapkan, rumah tapak masih digemari kelas menengah ke bawah.
Kontribusi serapan properti oleh masyarakat menengah ke bawah terhadap total penjualan properti mencapai 70%.
Serapan sebesar 200.000 unit ini, akan terus meningkat pada tahun 2018 menjadi 250.000 unit.

Jakarta, CNBC Indonesia - Pandemi menghantam sektor properti semakin lesu. Tapi diprediksi tahun ini pasar hunian bisa bergairah imbas dari adanya insentif dari pemerintah.

Wakil Ketua Umum Real Estate Indonesia (REI) Hari Ganie, menjelaskan sektor properti di 2020 sangat 'berdarah-darah'. Dimana kontraksi terjadi di sektor residensial komersial baik tapak maupun apartemen.

"Tapi kita lihat pengembang besar saat ini bisa berjalan baik dengan ada proyek yang eksisting, menyasar segmen yang dibutuhkan saat ini, makanya 2021 kita lihat pengembang besar akan bergerak juga pengembang kelas menengah," kata Hari kepada CNBC Indonesia, Kamis (22/4/2021).


"Pengembang kelas menengah juga masih bisa jualan residensial walaupun porsinya kecil tapi bisa jualan. Kalau office kayanya nggak dulu, harusnya 2021 ini tahun titik balik pasar properti," tambahnya.

Pengembang yang punya stok hunian bisa langsung cepat merespon insentif dari pemerintah. REI mengapresiasi insentif yang diberikan pemerintah, tapi masih tanggung untuk menggairahkan properti.

"Stimulus bagus sekali, tapi hanya sampai Agustus, kita berharap bisa diperpanjang sampai akhir tahun, ditambah dengan stimulus lain untuk rumah masyarakat berpenghasilan rendah,juga pembebasan BPHTB," kata Hari.

Termasuk pelonggaran pemberian KPR kepada masyarakat yang berada di sektor swasta. Meskipun banyak yang mengajukan KPR dari swasta yang terdampak pandemi.

Sebagai informasi, Relaksasi yang diberikan pemerintah terkait pembebasan PPN sampai Agustus mendatang, dan ditambah dengan insentif Down Payment atau uang muka hingga 0% mulai Maret 2021.

Pemberian diskon PPN mencapai 100% untuk rumah tapak dan susun dengan harga paling tinggi Rp 2 miliar. Sementara untuk rumah di atas Rp 2 miliar hingga Rp 5 miliar diskon PPN hanya 50%.


[Gambas:Video CNBC]

(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading