Internasional

Heboh Vaksin Johnson & Johnson Diminta Setop, Ini Alasannya!

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
14 April 2021 07:55
vaksin Covid-19 Johnson & Johnson. AP/

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan kesehatan federal Amerika Serikat (AS) pada Selasa (13/4/2021) menyarankan untuk menghentikan sementara penggunaan vaksin Covid-19 Johnson & Johnson (J&J). Ini diumumkan setelah ditemukan enam wanita di bawah usia 50 mengalami pembekuan darah langka setelah menerima suntikan vaksin itu.

Dikutip Reuters, Pejabat Komisioner Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) Janet Woodcock mengatakan badan tersebut memperkirakan bahwa jeda ini hanya akan terjadi dalam beberapa hari. Hal ini bertujuan untuk memberikan informasi kepada penyedia layanan kesehatan tentang cara mendiagnosis dan mengobati penggumpalan itu.


Tak hanya itu pejabat FDA lainnya Peter Marks mengatakan "sangat jelas" kasus J&J "sangat mirip" dengan kasus AstraZeneca. Ia menegaskan laporan sejenis ini tidak ditemukan pada vaksin Moderna atau Pfizer/BioNTech, yang menggunakan teknologi berbeda dan sejauh ini merupakan vaksin terbanyak yang disuntik ke warga AS.

Hal ini membuat J&J menunda peluncuran vaksinnya di Eropa dan Afrika Selatan (Afsel). Otoritas berwenang di dua wilayah itu saat ini sedang mengadakan penelitian mengenai hubungan penggumpalan darah dan vaksin J&J.

Sementara itu pakar imunologi AS menilai bahwa melihat efek samping yang tidak begitu besar jumlahnya ini. Ia menyimpulkan bahwa vaksin J&J memiliki resiko efek samping yang sangat rendah.

"Bahkan jika secara kausal dikaitkan dengan vaksin: 6 kasus dengan sekitar 7 juta dosis ... bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan," kata Dr. Amesh Adalja, pakar penyakit menular di Pusat Keamanan Kesehatan Johns Hopkins di Baltimore.

Lebih lanjut, ia mengutarakan kekhawatirannya bahwa hal ini akan berdampak pada progres vaksinasi nasional AS. Ini bisa memperlambat target sebelumnya.

Sebelumnya, masalah penggumpalan darah ini ditemukan di vaksin AstraZeneca. Hal ini sempat membuat beberapa negara di dunia menangguhkan pemakaianvaksin itu.

Bahkan baru-baru ini, sebuah sumber di badan obat-obatan Prancis menyatakan bahwa pengguna vaksin AstraZeneca pada dosis pertama disarankan untuk mengganti vaksinnya pada suntikkan kedua. Meski demikian WHO beranggapan vaksin produksi Inggris-Swedia itu masih tetap bisa membantu melawan corona.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading