Impor Gula RI Tertinggi Sepanjang Sejarah, Rente Triliunan!

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
08 April 2021 11:42
Pekerja munurunkan gula pasir dari kapal India sebanyak 23 ribu ton di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (6/4/2021). Gula tersebut ditargetkan mulai mengisi pasar konsumsi menjelang bulan puasa dan lebaran agar dapat memenuhi lonjakan permintaan. CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ekonom Senior Faisal Basri menyoroti bagaimana importir gula (raw sugar) bisa mendapatkan keuntungan hingga triliunan, namun petani tebu dalam negeri justru terpinggirkan.

Ia merasa aneh ketika impor gula terus meningkat dari tahun ke tahun meskipun industri makanan dan minuman sebagai penggunanya mengalami penurunan. Selama ini Indonesia harus mengimpor jumlah besar gula mentah (raw sugar) untuk diolah menjadi gulai industri di pabrik-pabrik gula rafinasi milik pengusaha besar.

"Impor gula melonjak dari 4,09 juta ton tahun 2019 menjadi 5,54 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah. Padahal industri makanan dan minuman-sebagai pengguna gula terbanyak-pertumbuhannya anjlok dari 7,8 persen tahun 2019 menjadi hanya 1,6 persen tahun 2020. Tidak ada tanda-tanda pula terjadi lonjakan konsumsi gula rumah tangga," katanya dikutip dari faisalbasri.com, Kamis (8/4).


Faisal mengungkapkan produksi gula nasional turun sekitar 100 ribu ton, dari 2,23 juta ton tahun 2019 menjadi 2,13 juta ton tahun 2020. Jadi jauh lebih kecil daripada kenaikan volume impor yang mencapai 1,45 juta ton.

Ia bilang tidak menutup kemungkinan jika adanya keran impor untuk menurunkan harga gula yang sempat naik ke angka R 15.000, bahkan ada yang mencapai Rp 22.000. Padahal harga eceran tertinggi (HET) gula hanya Rp 12.500.

Menurutnya menahan harga di pasar hanya untuk jangka pendek. Untuk jangka panjangnya, pemerintah harus mampu memberdayakan petani dalam negeri, baik melalui bantuan modal hingga riset agar ongkos produksi bisa ditekan, yang akhirnya membuat gula bisa menjadi lebih murah. Sayangnya, itu tidak terjadi.

"Kesenjangan harga eceran dibandingkan dengan harga gula dunia kian melebar. Pada awal 2012 harga eceran di Indonesia 2,3 kali lebih tinggi (Rp. 10.861) dari harga dunia (Rp. 4.675). Pada pertengahan 2016 naik menjadi 2,8 kali. Demikian pula pada awal 2021. Kesenjangan paling lebar terjadi pada April 2020 yaitu 4,4 kali (harga gula dunia Rp. 3.429, Indonesia Rp. 15.208). Lonjakan harga eceran kala itu justru terjadi ketika harga dunia mengalami penurunan," sebut Faisal.

Ia menjelaskan harga gula mentah yang menjadi referensi di pasar New York adalah Raw Sugar. Menurutnya pada harga penutupan 31 Maret 2021 tercatat sebesar US¢14,77 per pound atau US$325,6 per ton. Faisal mengestimasi dengan ongkos transport, asuransi, dan pengolahan senilai US$200 per ton, maka harga di pabrik gula rafinasi menjadi US$525,6 per ton. Ia bilang dengan kurs tengah BI (JISDOR) pada 31 Maret (Rp14.572/US$), harga per kg adalah Rp7.959.

"Jika pemerintah menugaskan pabrik gula rafinasi menjual langsung ke pasar, setidaknya keuntungan yang diperoleh mencapai Rp2.000 per kg. Harga untuk industri besar tentu saja lebih murah karena kontrak langsung dan mereka mengikuti pergerakan harga dunia, namun keuntungannya tidak jauh berbeda dibandingkan dengan menjual langsung ke pasar lewat distributor. Dengan produksi kesebelas pabrik gula rafinasi sekitar 3 juta ton, maka keuntungan totalnya adalah Rp 6 triliun," kata Faisal.

"Pukul rata, setiap pabrik menikmati laba sebanyak Rp 545 miliar," katanya. Bahkan untuk grup-grup bisnis yang lebih besar bisa mencapai triliunan keuntungan yang didapat.

Bukan hanya pihak swasta, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pemegang lisensi impor pun mendapat keuntungan besar. Harga di pasar lelang ICE London per 31 Maret 2021 adalah USD417 per ton. Katakanlah ongkos angkut plus bongkar-muat ditambah asuransi mencapai 20 persen dari nilai barang. Maka harga per ton sampai di pelabuhan tujuan adalah USD500.4, sehingga harga perolehan sebesar Rp7.292 per kg.

Ia mengatakan selain memperhitungkan ongkos distribusi dan margin pedagang serta biaya bunga bank sebesar sebesar Rp3.000, maka keuntungan bersih importir sebesar Rp2.208. Faktanya, harga eceran kerap di atas Rp12.500, sehingga potensi keuntungannya lebih besar lagi.

"Bagi BUMN pemegang lisensi impor yang memiliki pabrik gula berbasis tebu, insentif untuk mengimpor lebih menggiurkan ketimbang menghasilkan gula dari tebu petani. Jika dapat lisensi impor satu juta ton, maka laba yang diraup setidaknya Rp2 triliun. Buat apa berkeringat tetapi labanya kecil ketimbang bermodal secarik kertas sakti dapat triliunan rupiah," papar Peneliti senior INDEF itu.

Pemerintah memang harus menyelesaikan persoalan ini. Faisal menilai ada dua cara, Pertama, petani tebu dibantu untuk menggunakan bibit unggul dan segala penunjangnya agar rendemen bisa ditingkatkan setidaknya 50 persen dari yang sekarang sekitar 7 persen.

Kedua, merestrukturisasi pabrik gula agar terintegrasi sehingga menghasilkan gula dari tebu rakyat maupun tebu sendiri dan juga dari raw sugar yang diimpor. Dengan begitu, operasi pabrik bisa sepanjang tahun, sehingga ongkos giling lebih murah. Karena upah giling lebih murah, bagi hasil gula untuk petani meningkat dari 66 persen yang berlaku sekarang.

"Di kebanyakan negara, di negara paling liberal sekalipun seperti Amerika Serikat, kebijakan pemerintah bertujuan untuk melindungi dan memberdayakan petani. Di negeri yang memiliki Pancasila, petani malah termajinalkan, tidak menjadi roh dari kebijakan pemerintah," katanya.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading