RISET KEBIJAKAN

Ini Alasan Ekonomi RI Bakal Pulih dengan Kurva V Tahun Ini

News - Arif Gunawan & Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
29 March 2021 15:04
Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian, Airlangga Hartarto dalam acara Outlook Perekonomian Indonesia 2021. (Tangkapan Layar Youtube PerekonomianRI)

Jakarta, CNBC Indonesia - Teka-teki seputar kurva pemulihan ekonomi Indonesia berpeluang terjawab. Pertumbuhan ekonomi 2021 cenderung berbentuk kurva V, menyusul membaiknya indikator perekonomian dan kemajuan penanganan pandemi.

Dalam Webinar Economic Outlook 2021 yang digelar CNBC Indonesia, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan optimismenya bahwa pemulihan terus berjalan pada 2021, sehingga target pertumbuhan ekonomi di kisaran 5% bakal dicapai.

"Berbagai lembaga internasional baik Bank Dunia, OECD (Organisasi untuk Kerja Sama dan Pertumbuhan Ekonomi/Organization for Economic Cooperation and Development), ADB (Bank Pembangunan Asia/Asian Development Bank) dan IMF (Dana Moneter Internasional/ International Monetary Fund) memproyeksikan pertumbuhan Indonesia di level 4-4,8%, sejalan dengan target pemerintah 4,5-5,5%," tuturnya pada Kamis (25/2/2021).


Optimisme itu mengindikasikan bahwa pemerintah meyakini ekonomi akan berbalik positif tahun ini, atau membentuk kurva pemulihan ekonomi berbentuk V. Wajar saja, pemerintah sejak 2020 menjalankan program untuk menggenjot mesin ekonomi, dengan memberikan berbagai insentif bagi pelaku usaha, sembari menekan penyebaran virus melalui pembatasan sosial.

Untuk tahun ini, insentif pelaku usaha, bantuan sosial, dan penanganan medis pandemi tetap dipertahankan. Namun fokus penyelamatan ekonomi agak berbeda. Jika tahun lalu pemerintah lebih fokus dengan restrukturisasi kredit-utamanya bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), maka tahun ini prioritas bergeser pada stimulus untuk belanja masyarakat.

Di samping terus konsisten menjalankan program penanganan pandemi, tahun ini pemerintah memberikan stimulus untuk merangsang masyarakat berbelanja, ketimbang menabung (yang memicu kenaikan dana pihak ketiga/DPK perbankan hingga 19% pada 2020). Hal ini penting dilakukan mengingat belanja masyarakat menyumbang 54% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Terbaru, pemerintah membebaskan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) properti berbarengan dengan relaksasi Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) sebesar 0% untuk pembelian mobil baru dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) minimal 70%. Kebijakan terakhir ini diperluas, tak hanya untuk pembelian mobil bermesin 1.500 cc, melainkan juga 2.500 cc.

Airlangga Hartarto menyebutkan pemberian insentif PPnBM mobil dan insentif atas PPN perumahan tersebut bisa berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi minimal sebesar 1%. "Secara langsung kita melihat bisa menambahkan pertumbuhan 0,9% sampai 1% dengan multiplier effect-nya," kata dia dalam konferensi pers daring di Jakarta, Senin (1/3/2021).

Apakah optimisme pemulihan ekonomi tahun ini tersebut beralasan atau cenderung jauh panggang dari api? Berikut ini ulasan Tim Riset CNBC Indonesia, dengan mengacu pada indikator ekonomi, contoh di negara lain, dan kemajuan penanganan pandemi.

Peluang Menggenjot Konsumsi
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading