Nasib Gerai Giant-Centro Terpaksa Tutup Kehabisan Napas!

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
24 March 2021 19:45
Centro Bintaro Exchange (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri ritel belum lepas dari awan gelap. Satu tahun dihajar pandemi Covid-19, banyak gerai toko ritel yang harus berguguran dan akhirnya tutup satu per satu. Teranyar, dua gerai Centro tutup antara lain di Ambarrukmo Jogjakarta dan Bintaro Xchange.

"Rata-rata department store jadi tenant di pusat perbelanjaan, dimana pusat perbelanjaan orang agak-agak takut ke sana," kata Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia Solihin kepada CNBC Indonesia, Rabu (24/3/21).

Kekhawatiran masyarakat untuk datang ke pusat perbelanjaan membuat tingkat kunjungan ke mal anjlok. Meski sudah ada aturan pembatasan sebanyak 50%, namun nyatanya jumlah kunjungan sudah di bawah itu. Akibatnya transaksi kian sedikit dan banyak yang tidak mampu membayar biaya sewa.


"Ramayana tahun lalu aja sudah banyak yang tutup kan, jadi kalau ditanya department store ya sama-sama berdoa aja," sebut Solihin.

Berikut beberapa department store yang harus juga sempat tutup akibat pandemi Covid-19:

Giant

Belakangan ini sempat ramai di media sosial mengenai viralnya antrean di Giant Margo, City Depok, Jawa Barat. Kemudian, juga disusul penutupan Giant Kalibata, Jakarta Selatan.

Pantauan CNBC Indonesia, Giant Kalibata melakukan diskon serupa dengan konsep "Obral Besar" dan "Diskon Semua Harga". Bahkan di pintu masuk tertulis "Harga Discount Closing Store Mulai Berlaku Besok 2 Februari 2021".

Direktur HERO, Hadrianus Wahyu Trikusumo menjelaskan, penutupan beberapa toko tersebut merupakan proses transformasi bisnis perseroan untuk memastikan bahwa kami dapat bersaing secara efektif dalam bisnis ritel makanan di Indonesia.

Pasalnya, ritel makanan telah mengalami peningkatan persaingan dalam beberapa tahun terakhir. Selain itu, kinerja bisnis secara keseluruhan juga sangat terpengaruh oleh pandemi yang sedang berlangsung.

"Beragam pembatasan telah mempengaruhi operasional toko kami dan pelanggan telah mengubah perilaku belanja serta pola permintaan produk mereka," kata Hadrianus, dalam penjelasannya, Selasa (9/2/2021).

Perseroan, kata dia, telah mengambil tindakan penataan ulang toko untuk memastikan Giant memenuhi preferensi pelanggan perusahaan yang terus berkembang. Ini bukan hanya berarti menutup beberapa toko perseroan, tetapi juga berarti bahwa yang toko-toko lain sedang ditata ulang dan direnovasi.

"Semuanya akan mengarah pada bisnis yang lebih berkelanjutan dan lebih kuat di masa depan," tuturnya.

Selain memperkuat proposisi pelanggan dalam bisnis makanan, Hero Supermarket juga mengembangkan bisnis lainnya seperti toko kesehatan dan kecantikan di bawah Guardian dan toko perabot rumah tangga, IKEA.

Sejak tahun lalu, sebetulnya Giant sudah melakukan beberapa perampingan dengan menutup 6 gerai secara nasional. Keenam gerai itu antara lain di Cinere Mall, Mampang, Pondok Timur, Jatimakmur, Cibubur, Wisma Asri. Dengan bertambahnya 2 gerai tutup di tahun ini, kini Giant hanya mengelola sebanyak 117 gerai secara nasional.

Ramayana

Masih teringat video viral sempat beredar terkait penutupan gerai Ramayana yang diwarnai tangis karyawan di gerai Depok beberapa waktu lalu. Hal itu bagian dari langkah penutupan gerai juga dilakukan PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk. Sebanyak 13 gerai ditutup sementara karena penurunan penjualan akibat pandemi Covid-19. Aksi ini dilakukan sejak akhir Maret 2020 lalu.

Sebanyak 87 karyawan tetap Ramayana di Ramayana City Plaza Depok, Jawa Barat, terkena PHK. Kabar PHK itu awalnya berembus dari sebuah video yang viral dari akun Twitter @wawat_kurniawan. Video yang juga diperoleh CNBC Indonesia itu berisikan sejumlah karyawan yang berseragam merah muda-abu saling berpelukan dan menangis.

Informasi PHK itu pun dibenarkan oleh Store Manager Ramayana City Plaza Depok M Nukmal Amdar.

"Ada 87 karyawan, yang benar itu. Yang beredar ada ratusan, segala macam. Yang benar 87 yang kita proses PHK sesuai dengan ketentuan," kata Nukmal, dari Detik.com, Rabu (8/4/2020).

Penyebab dari PHK yang dilakukan Ramayana ini terkait dengan dampak ekonomi dari virus Corona yang menekan penjualan gerai tersebut.

" Ya sudah tidak mampu menutupi lagi biaya-biaya operasional. Di tengah pandemi ini dengan prediksi sales kita ke depan ya sudah diperhitungkan memang sudah tidak mampu lagi," tegas Nukmal.

Matahari

Setelah mencatatkan rugi di tahun lalu berdasarkan laporan belum diaudit, emiten ritel milik Grup Lippo, PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF) berencana menutup sekitar 6 gerai Matahari lagi tahun ini dari 23 total gerai dalam pengawasan kinerja.

Berdasarkan paparan kinerja unaudited yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (1/2/2021), perusahaan total memiliki 147 gerai di akhir 2020 termasuk 23 gerai dalam pantauan kinerja.

Di kuartal 4-2020, perusahaan menutup 6 toko dan secara tahunan menutup 25 gerai. Penutupan 25 gerai ini termasuk 12 gerai di Q1-Q3, sebanyak 7 gerai yang tidak menguntungkan (juga di periode Q1-Q3), dan sebanyak 6 gerai di Q4-2020.

Adapun 6 geri tersebut yakni gerai Mahahari di Lippo PLZ MAL Yogja, Lippo MAL Kuta, Keboen Raya BGR, Lippo PLZ MAL Gresik, Mayofield TC KWG, dan gerai Matahari di GTC TC Makassar.

Sementara itu, dari 23 gerai dalam pantauan, 6 akan ditutup tahun ini, dan sisanya 17 akan tetap dipantau.

"Berharap untuk menutup 6 dari 23 gerai dari pantauan pada tahun 2021 dan 17 gerai tetap dalam daftar pantauan," tulis manajemen Matahari, diwakili Miranti Hadisusilo, Corporate Secretary dan Direktur Legal LPPF.

Centro

Setelah pekan lalu menimpa Centro di Plaza Ambarrukmo Yogyakarta, kini toko dari grup yang sama juga dikabarkan terkena imbasnya, yakni Centro di Bintaro Xchange, Tangsel, Banten.

"Benar Centro (Bintaro Xchange) tutup, sedangkan untuk data secara rincinya saya belum terima. Mana aja yang lagi tutup saya lagi data," kata Sekretaris Jenderal Aprindo Solihin kepada CNBC Indonesia, Rabu (24/3/21).

Hal ini kian memperparah kondisi toko ritel fashion yang tutup. Sebelumnya, ada Centro Ambarrukmo Jogjakarta mengalami kondisi serupa.

Jaringan ritel milik Parkson Retail Asia Ltd yang tercatat di Bursa Singapura, lewat PT TozySentosa ini tutup setelah melayani masyarakat Yogyakarta selama 15 tahun sejak Plaza Ambarrukmo berdiri.

"Per hari ini [Rabu] sudah mulai tutup, hari terakhir bukanya kemarin," ucap salah satu anggota Customer Service Plaza Ambarrukmo dilansir CNNIndonesia.

Manajemen mal mengatakan penutupan Centro dilakukan usai toko menggelar diskon besar-besaran dalam beberapa hari terakhir.

"Kemarin sudah mengadakan sale habis-habisan, mungkin untuk habisi stok ya. Tapi penutupannya memang baru diinfokan satu hari sebelum," katanya.

Kabar serupa pada Centro Bintaro Xchange sudah terendus sejak akhir bulan lalu. Beberapa pengguna Twitter menyebut bahwa toko ritel ini sudah terdampak.

"melaporkan dari centro bintaro. nggak nanya nggak apa tetiba masnya nyamperin "maaf ya mba, barang kami sudah nggak ada yang bisa di-display. kita terdampak banget" lalu... nyessss," tulis akun @aldeafr pada 28 Februari silam.

"Centro di bintaro tangsel juga tutup. Sedih bener efek pandemi ini," tulis @ProudlyCushions menanggapi kabar Centro di Plaza Ambarukmo yang tutup.

CNBC Indonesia sempat menyambangi lokasi Centro di Bintaro Xchange, Selasa sore (23/3). Di depan pintu tertulis pengumuman yang berbunyi "Mohon maaf atas ketidaknyamanannya, Centro Bintaro Xchange sedang melaksanakan stock of name"

Seorang karyawan di lantai GF yang tak mau disebutkan namanya mengatakan memang sebagian tutup, tapi untuk Centro di lantai LG posisinya buka secara terbatas.

"Belum, belum ada info mau menutup, selagi barang masih ada belum tutup tapi barangnya cuma segini aja," jelasnya.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading