Pandemi Bikin Banyak Orang Mendadak Jadi Pedagang Online

News - Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
05 March 2021 17:00
Pengunjung memilih busana muslim yang di jual di sentra perdagangan tekstil, Pasar Tanah Abang, Jakarta, Minggu (14/1/2018). Beragam model busana muslim di tawarkan dengan kisaran harga Rp 180.000 hingga Rp 350.000. Soal banyaknya lapak penjual baju secara online, pedagang justru merasa diuntungkan, karena tak sedikit pelanggannya yang saat ini menjadi reseller secara online.

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM) mencatat penambahan jumlah pedagang online di platform e-commerce. Pandemi Covid -19 menjadi salah satu alasan dorongan perubahan medium bisnis ini.

Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki mengatakan dari awal 2020 lalu pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) sudah mencapai 8 juta yang sudah go online. tapi per bulan Maret ini sudah mencapai 12 juta pelaku usaha.

"Waktu itu sesuai arahan Presiden minta ada tambahan 2 juta pelaku usaha yang masuk ke platform digital, hari ini kita sudah lampaui ada 12 juta pelaku UMKM yang on boarding digital, terakselerasi pandemi Covid banyak UKM yang melakukan transformasi offline ke online," kata Teten kepada CNBC Indonesia, program Profit, Jumat (5/3/2021).


Teten mengakui angka itu masih terbilang kecil dibanding jumlah pengusaha UMKM yang ada di Indonesia. Makanya masih perlu dorongan untuk menambah jumlah pelaku UMKM untuk masuk platform bisnis.

Salah satu yang sedang dibicarakan dengan asosiasi dan pelaku usaha adalah potensi dari platform market digital yang berskala lokal, khususnya untuk produk groceries (bahan makanan).

"Kita butuh platform digital dalam market daerah (lokal) lebih kecil supaya yang punya kapasitas produksi kecil bisa bertahan lama. Dari pendekatan kami UMKM tidak bisa jualan di platform digital karena SDM yang terbatas," jelas Teten.

Teten menjelaskan selama pandemi juga muncul 30 ide inisiatif inovasi aplikasi digital yang dikembangkan anak muda. Mulai dari aplikasi online untuk penjualan warung nasi, layanan tukang jahit, hingga spesifik produk perempuan.

Pemerintah Daerah juga melakukan pengembangan platform digital untuk memberdayakan UMKM. Teten menjelaskan dalam aturan Undang-Undang Cipta Kerja diatur pula ketentuan terkait belanja kementerian lembaga, diman 40% harus dari produk UMKM.

"Bahkan nilainya sampai Rp 15 miliar. Ini sebelumnya Rp 2,5 miliar. Pengadaan ini sudah bisa untuk koperasi . Totalnya itu mencapai Rp 300 triliun kalau tidak salah. Sehingga kalau ada platform di daerah, UMKM yang jualan makanan dan minuman, misal untuk rapat kantor di daerah itu bisa onboarding di platform Pemda. Pengadaan sekarang lewat LKPP secara elektronik juga," kata Teten.

Teten juga mengatakan pentingnya peran reseller untuk mendorong UMKM. Bertolak dari pengalaman perusahaan e-commerce China Alibaba yang menjadikan reseller jadi strategi bisnisnya.

"Pengalaman Alibaba peran reseller misal dari anak mahasiswa atau pegawai bisa ikut menjual produk umkm di medsos. Saya kira ini penting para reseller ini," kata Teten.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading