PLN 'Boncos' Gegara Pembangkit Listrik Tenaga Diesel, Kenapa?

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
03 March 2021 10:50
Melihat PLTD Tertua di Kendari yang Berhenti Beroperasi Karena Tol Listrik

Jakarta, CNBC Indonesia - Demi mengejar bauran energi baru terbarukan (EBT) di sektor kelistrikan, PT PLN (Persero) bakal mengonversi 5.200 PembangkitĀ Listrik Tenaga Diesel (PLTD) di 2.130 lokasi terpencil ke pembangkit EBT.

Wakil Direktur Utama PT PLN Darmawan Prasodjo mengatakan penggunaan BBM sebagai bahan bakar pembangkit di daerah terpencil memiliki ongkos yang sangat mahal.

"Menggunakan BBM di daerah terpencil dengan biaya transport yang tinggi itu mendekati 3.500-4.500 per kWh," paparnya dalam 'Kompas Talks bersama IESR' melalui kanal YouTube, Selasa (2/3/2021).

PLTD yang mahal ini akan diganti dengan pembangkit EBT berbasis kearifan lokal, salah satunya dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Tujuannya agar PLTS ini bisa dijadikan base load, maka diperlukan energy storage (penyimpanan energi) sehingga beroperasi 24 jam.

Seperti diketahui PLTS memiliki ketergantungan pada matahari. Jika penggunaan energy storage ini bisa lebih murah dari PLTD, maka bakal menguntungkan PLN selain mendorong bauran EBT.

Lebih lanjut, Darmawan mengatakan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) nantinya bakal bersaing dengan EBT. Di mana dulu harga listrik PLTU menjadi yang paling murah di kisaran 5,5 sen per kWh sementara EBT 30 sen per kWh.

Namun kondisi berbalik terjadi sekarang di mana harga listrik dari EBT untuk PLTS tanpa baterai sudah mendekati 3,6 - 3,7 sen per kWh, sementara batu bara 5,5 - 6 sen per kWh.



"Tentu saja dengan baterai masih mahal 12 -15 sen pe kWh, tetapi kita berinovasi. Dulu nggak ada baterai lithium sekecil ini, ke depan akan semakin murah," tegasnya.

Pemanfaatan energi surya terus didorong pemerintah untuk mencapai bauran energi 23% pada tahun 2025. PLTS punya beberapa kelebihan dibandingkan dengan pembangkit lain.

Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Chrisnawan Aditya mengatakan, salah satu kelebihan PLTS dibandingkan pembangkit lainnya, yaitu cepat dalam proses pembangunan. Selain itu, ongkos dari teknologinya juga sudah turun drastis sejak 2013.

"Tahun 2013 harganya 20 sen dolar (per kWh), lima tahun terakhir jadi 10 sen, dan terakhir PLTS Apung di Cirata harganya 5,81 sen dolar (per kWh), sudah drop," paparnya dalam live Instagram akun resmi Kementerian ESDM, Jumat (19/02/2021).

Bahkan, menurut Chrisnawan, sudah ada calon investor yang berminat untuk investasi pembangunan PLTS di Tanah Air dengan harga listrik yang jauh lebih rendah, yakni 4 sen dolar per kWh. Dengan harga jual listrik yang semakin kompetitif, maka ini akan semakin menguntungkan bagi RI.

"Ke depan, kita ada investor yang berminat bangun dengan harga 4 sen (dolar). Indonesia potensinya sudah teridentifikasi bisa 207,8 giga watt (GW) energi surya saja, pemakaian baru 153 mega watt (MW)," ungkapnya.



[Gambas:Video CNBC]

(miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading