Pembangkit Listrik 3.000 MW di Jawa Mulai Beroperasi 2021

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
23 February 2021 15:40
PLTU Tanjung Jati B (Dok. PLN)

Jakarta, CNBC Indonesia - Direktur Bisnis Regional Jawa, Madura, dan Bali (Jamali) PLN Haryanto W.S. memperkirakan pada tahun ini akan ada penambahan pembangkit listrik di Jawa sekitar 2.500-3.000 mega watt (MW).

Dia mengatakan saat ini kapasitas terpasang pembangkit listrik di Jawa, Madura, Bali mencapai 40.000 MW.

Menurutnya, pada tahun ini akan bertambah 2.000 MW dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jawa-7 Unit 2. Penambahan lain juga berasal dari PLTU Tanjung Jati unit 5, dan beberapa pembangkit yang dibangun PLN tidak kurang dari 1.000 MW.


"Mungkin bisa 2.500-3.000 MW akan nambah tahun ini," paparnya dalam Webinar Efisiensi Penyediaan Tenaga Listrik PT PLN (Persero), Selasa (23/02/2021).

Dia mengatakan, jumlah pelanggan PLN di Jamali menguasai sekitar 70% dari total pelanggan se-Indonesia, terdiri dari pelanggan tegangan rendah (TR) 61%, tegangan menengah (TM) 32%, dan tegangan tinggi (TT) 7%.

"Jadi, kontribusi Jamali 70% dari total size nasional. Ini cukup besar peranan di dalam PLN," tuturnya.

Seperti diketahui, konsumsi listrik pada 2020 turun sebagai dampak dari pandemi Covid-19. Oleh karena itu, pemerintah mengurangi jumlah penambahan kapasitas pembangkit listrik baru hingga 15,5 giga watt (GW) pada Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021-2030.

Hal tersebut sempat disampaikan oleh Direktur Jenderal Ketenagalistrikan (Gatrik) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana.

Rida mengatakan, pengurangan kapasitas pembangkit listrik baru tersebut berasal dari proyek 35 ribu mega watt (MW) dan juga pengurangan kapasitas pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT) yang mencapai sebesar 500 mega watt (MW).

"Kita kurangi 15,5 GW dari RUPTL yang ada pada periode lalu, tentu saja ada pengurangan yang bagian dari proyek 35 GW ya," paparnya dalam konferensi pers virtual 'Capaian Kerja 2020 dan Rencana Kerja 2021 Sub Sektor Ketenagalistrikan', Rabu (13/01/2021).

Pengurangan tambahan pembangkit ini menurutnya karena adanya penyesuaian pada target pertumbuhan listrik di dalam RUPTL. Rida menyebut pertumbuhan listrik dalam sepuluh tahun ke depan hanya ada di posisi 4,9%. Proyeksi ini jauh di bawah proyeksi RUPTL awal yang memproyeksikan pertumbuhan listrik rata-rata mencapai 6,4%.

"Berkaca dari kasus 2020 akibat Covid-19 ini pemulihan ekonomi seperti apa, no body knows kapan ini akan berakhir. Kita beri kesempatan dengan PLN ambil sikap tempatkan rata-rata pertumbuhan listrik selama 10 tahun ke depan. Bayangkan RUPTL lama 6,4%, ya sekarang 5% aja nggak, 4,9%," jelasnya.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading