Ekonomi RI Masih Terus Nyungsep Jika 3 Poin Tak Dibereskan

News - Chandra Gian Asmara, CNBC Indonesia
03 February 2021 12:05
FILE PHOTO: Containers are pictured at a terminal in the harbour of Hamburg, Germany, late September 23, 2012.     REUTERS/Fabian Bimmer/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Danareksa Research Institute memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun ini masih mencatatkan minus 2,94%. Pemulihan ekonomi, akan berlangsung lambat.

Hal tersebut terungkap dalam riset terbaru Danareksa Research Institute yang berjudul 'GDP Outlook 4th Quarter of 2020 : Sluggish Recovery', seperti dikutip CNBC Indonesia, Rabu (3/2/2021).

"Danareksa Research Institute memperkirakan bahwa pertumbuhan PDB pada triwulan IV tahun 2020 mencapai 0,70% qoq atau -2,94% yoy. Secara tahunan, PDB diperkirakan mengalami kontraksi -2,33% pada tahun 2020," tulis laporan tersebut.


Berdasarkan catatan Danareksa, melambatnya pemulihan ekonomi dalam beberapa periode mendatang akan dipengaruhi oleh tiga faktor utama.

Pertama, adalah penanganan strategi dalam meratakan kurva kasus harian Covid-19. Kedua, berkaitan dengan distribusi vaksin Covid-19, terutama vaksin untuk masyarakat umum.

"Ketiga, efektivitas stimulus pemerintah dalam meningkatkan kegiatan ekonomi," tulis laporan ini.

Danareksa mengungkapkan, lemahnya pemulihan ekonomi mencerminkan lesunya konsumsi rumah tangga di tengah realisasi program perlindungan sosial yang relatif tinggi.

"Selain itu, investasi, ekspor dan impor menunjukkan pertumbuhan terbatas pada kuartal terakhir 2020,"

Danareksa juga mencatat sektor investasi melambat yang terlihat dari kontraksi pertumbuhan kredit investasi serta melambatnya Foreign Direct Investment (FD) dan pembangunan infrastruktur.

"Aktivitas investasi lesu akibat berlakunya PSBB dan melemahnya optimisme investor di tengah maraknya kasus positif Covid-19 di Indonesia,"

"Penjualan semen hanya tumbuh 4,23% qoq, jauh lebih lambat dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai 37,84% qoq. Selain itu, pertumbuhan kredit investasi mengalami kontraksi -2,02% qtq karena lemahnya permintaan kredit baru," jelasnya.


[Gambas:Video CNBC]

(cha/cha)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading