Kemendag Sebut Harga Kedelai Terus Melonjak di Februari

News - Sandi Ferry, CNBC Indonesia
01 February 2021 11:45
Pekerja beraktivitas di Rumah Produksi Tahu di kawasan Lebak Bulus, Jakarta, Senin (4/1/2021). Produksi tahu di lokasi ini kembali dilanjutkan setelah beberapa hari belakangan mogok akibat naiknya harga kedelai yang mencapai Rp9.200 per kilogram dari harga normal Rp72.00 per kilogram. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tren kenaikan harga kedelai belum juga menemui penurunan hingga saat ini. Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Syailendra bahkan memperkirakan harga kedelai di bulan Februari ini akan terus melonjak.

Selama bulan Januari, harga kedelai impor di tingkat pengrajin tahu dan tempe secara umum berada di kisaran Rp 9.100/kg sampai Rp 9.200/kg. Adapun harga kedelai impor pada Februari diperkirakan menjadi berkisar Rp 9.500/kg di tingkat pengrajin tahu dan tempe.

Selain itu, akan dapat terjadi penyesuaian kembali harga tahu yang sebelumnya Rp 600/potong menjadi berkisar Rp 650/potong dan harga tempe yang sebelumnya Rp 15.000/kg menjadi berkisar Rp 16.000/kg.


"Penyesuaian harga tahu dan tempe di pasar merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Sebabnya, mayoritas kebutuhan kedelai Indonesia masih dipenuhi melalui impor dan dipengaruhi pergerakan harga kedelai dunia yang berdampak pada harga bahan baku kedelai untuk tahu dan tempe di Indonesia," ujar Syailendra dalam keterangan resmi Kementerian, dikutip Senin (01/02/2021).

Bersumber dari Chicago Board of Trade (CBOT), harga kedelai dunia pada Desember 2020 masih sebesar US$ 13,12/bushels untuk penyediaan pada Januari 2021. Pada saat ini, harganya telah naik 4,42% menjadi US$ 13,7/bushels untuk penyediaan kedelai pada Februari.

"Kenaikan harga kedelai di tingkat pengrajin tahu dan tempe tersebut merupakan dampak pergerakan harga kedelai dunia sejak pertengahan tahun lalu hingga sekarang," katanya.

Terjadinya kenaikan harga kedelai dunia yang mencapai 30% yang dimulai pada paruh kedua tahun lalu hingga akhir 2020 berdampak pada penyesuaian harga tahu dan tempe di pasar. Harga tahu dan tempe naik menjadi rata-rata 20%, mengingat kedelai memberikan kontribusi yang cukup besar sebagai bahan baku produksi tahu dan tempe.

Meski tidak bisa menghindari kenaikan harga, namun Kementerian Perdagangan menjamin kedelai akan selalu tetap tersedia dan industri pengrajin tahu dan tempe akan terus berproduksi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di tengah kenaikan harga kedelai impor.

Syailendra juga mengimbau para importir yang memiliki stok kedelai untuk terus memasok kedelai secara kontinu kepada pengrajin tahu dan tempe anggota Gabungan Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Gakoptindo), baik di Puskopti provinsi maupun Kopti kabupaten/kota seluruh Indonesia.

"Diharapkan produksi tahu dan tempe tetap terus berjalan dan masyarakat masih tetap mendapatkan tahu dan tempe dengan harga terjangkau," sebutnya.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading