Inggris Bisa Jadi Negara Gagal?

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
25 January 2021 20:46
The London Eye opposite The Elizabeth Tower housing the bell

Jakarta, CNBC Indonesia - Mantan Perdana Menteri (PM) Inggris Gordon Brown menyatakan Negeri Big Ben dapat menjadi negara gagal tanpa reformasi pemerintahan yang luas. Hal itu menyusul desakan pemungutan suara baru tentang kemerdekaan Skotlandia meningkat.

"Status quo tidak berfungsi dan eksperimen paling sukses di dunia dalam kehidupan multinasional berada di bawah ancaman yang lebih besar dari pada kapan pun dalam 300 tahun," kata Brown.

"Saya yakin pilihannya sekarang adalah antara negara yang direformasi dan negara yang gagal," lanjutnya seperti dikutip AFP, Senin (25/1/2021).

Brown adalah menteri keuangan di era Tony Blair, di mana kekuasaan dilimpahkan kepada pemerintah di Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara pada tahun 1999. Ketiganya sekarang menikmati berbagai kewenangan untuk menetapkan kebijakan di berbagai bidang seperti kesehatan, pendidikan, transportasi, dan lingkungan.

Pada tahun 2002, pemerintah Blair mengusulkan untuk membawa majelis regional terpilih untuk Inggris dengan kekuatan serupa. Akan tetapi, rencana itu ditolak.



Pemerintah Inggris di London bertanggung jawab atas Inggris sekaligus juga mempertahankan kendali nasional atas isu-isu seperti pertahanan, kebijakan luar negeri, perdagangan internasional dan imigrasi.

Brown meminta PM Inggris saat ini, Boris Johnson, untuk membentuk komisi untuk meninjau pemerintahan Inggris setelah pandemi Covid-19 terkendali.

"Sudah terlalu lama kita tidak menyatakan tujuan bersama, dan nilai-nilai yang mengikat Inggris bersama," katanya.

Tahun lalu telah terlihat pendekatan berbeda untuk mengatasi pandemi Covid-19 di Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara, dan perselisihan antara wali kota regional terpilih di Inggris dengan pemerintah di London.

Komentar Brown muncul karena keinginan untuk merdeka dari London tampaknya tumbuh, tidak hanya di Skotlandia, tetapi juga di Wales dan Irlandia Utara.

Sementara itu, jajak pendapat Sunday Times menunjukkan 50% pemilih Skotlandia menginginkan referendum lagi dalam lima tahun ke depan, dan 49% akan memilih kemerdekaan, sementara 44% akan menolaknya.



[Gambas:Video CNBC]

(miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading