Waspada! BMKG Sebut Aktivitas Gempa Meningkat di Awal 2021

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
24 January 2021 12:20
Presiden Joko Widodo meninjau Kantor Gubernur Sulawesi Barat yang mengalami kerusakan karena gempa di Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat. (Dok: Biro Pers Sekretariat Presiden)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia kini sedang dilanda berbagai bencana alam, salah satunya gempa bumi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat adanya peningkatan aktivitas kegempaan di Indonesia pada awal 2021.

Bahkan tercatat ada sebanyak 59 kali aktivitas gempa terjadi selama waktu 22 hari.

"Selama periode 1 hingga 22 Januari 2021 saja, BMKG mencatat gempa dirasakan sebanyak 59 kali," kata Deputi Bidang Geofisika BMKG Muhammad Sadly melalui keterangan tertulis, dikutip Minggu (24/1/2021).


"Jumlah ini tergolong tinggi dan hampir setiap hari terjadi gempa dirasakan. Bahkan, pada 14 Januari 2021, dalam sehari terjadi gempa dirasakan sebanyak delapan kali."

Selain itu, BMKG masih memonitor aktivitas gempa yang terjadi di wilayah Kota Majene dan Kota Mamuju di Sulawesi Barat. Hingga Sabtu kemarin, tercatat total 43 kali gempa, dimana pada Sabtu pukul 11.00 WITA terjadi 34 kali gempa susulan.

"Hasil analisis peluruhan gempa susulan menunjukkan bahwa diperkirakan gempa susulan akan berakhir sekitar 3-4 minggu pascagempa utama (15/1/2021), dengan intensitas dan frekuensi yang semakin menurun," paparnya.

"Hasil perhitungan ini, meskipun menggunakan formula dan metode yang sahih, bukan menjadi hitungan yang pasti. Akan tetapi dapat digunakan sebagai gambaran estimasi kapan gempa susulan akan berakhir. Kami menghimbau masyarakat tetap waspada. BMKG tidak menginstruksikan agar pengungsi untuk kembali ke rumah masing-masing."

Selain itu, kata Sadly, gempa dengan magnitudo 7,0 yang mengguncang Kepulauan Talaud di Sulawesi Utara pada Kamis (21/1/2021) malam lalu termasuk kategori gempa besar.

Sadly mengatakan penyebab terjadinya gempa Talaud akibat deformasi batuan pada bagian slab lempeng di laut Filipina yang tersubduksi di bawah Kepulauan Talaud dan Miangas.

Lebih lanjut Sadly mengatakan hingga saat ini telah terjadi gempa susulan sebanyak 18 kali di Talaud sejak gempa pertama. Namun gempa susulan tersebut masuk dalam kategori rendah.

"Hingga saat ini telah terjadi 18 gempa susulan (aftershock). Gempa Talaud memiliki produktivitas gempa susulan yang rendah, hal ini karena karakteristik batuan pada Lempeng Laut Filipina sangat homogen dan elastis (ductile)," tambahnya.

"Sifat elastis pada batuan ini yang menjadikan batuan tidak rapuh, sehingga gempa susulan jarang terjadi. Gempa Talaud meskipun tidak berpotensi tsunami tetapi menimbulkan kerusakan beberapa bangunan rumah dan tempat ibadah yang tersebar di Kecamatan Tampan Amma, Kecamatan Melonguane, Kecamatan Beo, dan Kecamatan Beo Utara," jelasnya.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading