Biden Siap Sebar Stimulus Rp 26,6 Ribu Triliun, RI Dapat Apa?

News - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
16 January 2021 16:08
Sayup suara ombak menyusup hingga ke ruang-ruang sempit Kapal yang tengah bersandar di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta Utara, Rabu (29/7/2020) petang itu. Sejumlah anak dengan berani tengah asik melompat bergantian dari atas kapal, sambil berteriak.
Sunda Kelapa adalah nama pelabuhan yang berada di ujung utara Jakarta. Pelabuhan ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Pada zaman kerajaan, Sunda Kelapa adalah pusat perdagangan. Kini, meski telah dimakan usia, pelabuhan ini masih tetap ramai.
Banyak orang mengais rezeki di Pelabuhan Sunda Kelapa. Ada pedagang, nelayan, Anak Buah Kapal (ABK), pemberi jasa sampan, hingga buruh angkut. Semua tumpah ruah menjadi satu. Namun bagi anak-anak sunda kelapa adalah tempat paling asik untuk bermain.

Pelabuhan Sunda Kelapa lambat laun tidak terlihat sesibuk saat masa jayanya. Kini, pelabuhan tersebut dikelola oleh PT Pelindo II dan tidak mengantongi sertifikasi International Ship and Port Security karena sifat pelayanan jasanya hanya untuk melayani kapal antar pulau di dalam negeri.

Dari sisi ekonomi pelabuhan ini masih cukup strategis, mengingat berdekatan dengan pusat-pusat perdagangan di Jakarta seperti Glodok, Pasar Pagi, Mangga Dua, dan lain-lainnya. Menjadi buruh kuli angkut mungkin bukan hal yang dicita-citakn oleh banyak orang. Namun ketika tidak ada lagi keahlian yang bisa ditawarkan selain tenaga kasar maka menjadi buruh kasar sebagai kuli angkut pun harus dijalani.

Setidaknya ini yang tertangkap saat melihat potret para kuli angkut di Pelabuhan Sunda Kelapa Jakarta Utara. Dalam sehari para pekerja kuli angkut ini mampu membongkar muatan dengan berat total 300ton. Beban sebesar ini dikerjakan oleh 20an orang pekerja.  (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Sebagai negara dengan perekonomian terbesar di dunia, prospek pertumbuhan ekonomi AS yang membaik tentunya akan berdampak positif bagi negara-negara lain, tak terkecuali Indonesia.

Selain China, Amerika merupakan mitra dagang strategis bagi Indonesia. Nilai ekspor Indonesia ke AS sepanjang Januari-Desember 2020 tercatat mencapai US$ 18,6 miliar. Sementara itu nilai impornya mencapai US$ 7,49 miliar.

Artinya total nilai perdagangan AS-RI mencapai US$ 26 miliar. Indonesia masih mencatatkan surplus perdagangan sebesar US$ 11,1 miliar di sepanjang tahun 2020. Kebangkitan ekonomi AS akibat stimulus fiskal yang banyak dialokasikan untuk menjaga daya beli warga AS diharapkan mampu meningkatkan permintaan impor dari RI.


Apalagi produk-produk yang diekspor RI ke AS dengan nilai tinggi adalah produk yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat AS seperti aksesoris, pakaian, sepatu dan alas kaki, produk manufaktur, furnitur hingga komoditas seperti karet. 

Pada 2019 saja, UN Comtrade mencatat nilai ekspor produk-produk tersebut ke AS dari RI mencapai US$ 10,8 miliar atau total mencapai 60% dari total pangsa ekspor ke Paman Sam.

Namun yang harus diwaspadai adalah lonjakan kasus Covid-19 di AS yang memicu pengetatan mobilitas. Apabila hal ini masih terjadi dan program vaksinasi berjalan lebih lambat dari seharusnya, maka masyarakat AS terutama untuk kalangan menengah bawah masih akan cenderung menahan belanjanya.

Kalaupun mereka berbelanja, tentunya masyarakat AS akan lebih fokus ke produk-produk kebutuhan pokok. Bagaimanapun juga masih ada risiko ketidakpastian yang tinggi dengan adanya pandemi Covid-19 ini.

Skenario pertumbuhan ekonomi yang bullish di tahun ini bisa berubah jika wabah masih belum bisa dijinakkan karena kasus yang meningkat secara signifikan, efektivitas vaksin yang rendah maupun progress imunisasi yang berjalan lambat. Gesekan atau tensi geopolitik juga menjadi ancaman tersendiri bagi pemulihan ekonomi global.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading