Konsumsi Listrik Melandai, Pembangkit Baru Diciutkan 15,5 GW

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
13 January 2021 18:20
PLTU Tanjung Jati B (Dok. PLN)

Jakarta, CNBC Indonesia - Anjloknya konsumsi listrik akibat pandemi Covid-19 membuat pemerintah mengurangi jumlah penambahan kapasitas pembangkit listrik baru hingga 15,5 giga watt (GW) pada Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021-2030.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Jenderal Ketenagalistrikan (Gatrik) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana.


Rida mengatakan, pengurangan kapasitas pembangkit listrik baru tersebut berasal dari proyek 35 ribu mega watt (MW) dan juga pengurangan kapasitas pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT) yang mencapai sebesar 500 mega watt (MW).

"Kita kurangi 15,5 GW dari RUPTL yang ada pada periode lalu, tentu saja ada pengurangan yang bagian dari proyek 35 GW ya," paparnya dalam konferensi pers virtual 'Capaian Kerja 2020 dan Rencana Kerja 2021 Sub Sektor Ketenagalistrikan', Rabu (13/01/2021).

Pengurangan tambahan pembangkit ini menurutnya karena adanya penyesuaian pada target pertumbuhan listrik di dalam RUPTL. Rida menyebut pertumbuhan listrik dalam sepuluh tahun ke depan hanya ada di posisi 4,9%. Proyeksi ini jauh di bawah proyeksi RUPTL awal yang memproyeksikan pertumbuhan listrik rata-rata mencapai 6,4%.

"Berkaca dari kasus 2020 akibat Covid-19 ini pemulihan ekonomi seperti apa, no body knows kapan ini akan berakhir. Kita beri kesempatan dengan PLN ambil sikap tempatkan rata-rata pertumbuhan listrik selama 10 tahun ke depan. Bayangkan RUPTL lama 6,4%, ya sekarang 5% aja nggak, 4,9%," jelasnya.

Lebih lanjut Rida mengatakan bahwa RUPTL ini merupakan barometer dari investasi. Dengan RUPTL, menurutnya juga melihat pergerakan energi Indonesia ke depan, khususnya di sektor ketenagalistrikan.

Meski ada pengurangan tambahan kapasitas di pembangkit listrik energi baru terbarukan, namun menurutnya pemerintah juga masih berkomitmen menjalankan Perjanjian Paris untuk menekan emisi karbon dan mengejar target bauran energi baru terbarukan sebesar 23% pada 2025.

"Kita akan perjuangkan pada RUPTL yang baru. Kalau boleh tahu bocoran apa sih kebijakan pemerintah, kita ingin commit pada kebijakan Paris Agreement dan salah satunya wujudkan bauran energi 23% pada tahun 2025," jelasnya.

Menurutnya, pemerintah akan terus berupaya agar minimal tidak mundur dari target. Demi mengejar target ini, RUPTL dibuat dengan cukup ketat melalui evaluasi dan verifikasi. Dan yang paling penting adalah membuat rencana yang realistis meski ambisius.

Menurutnya, Direktur Utama PLN sudah mengusulkan RUPTL 2021-2030 sejak Desember 2020. Pihaknya besok berencana melaporkan dokumen baru RUPTL 2021-2030 yang berisi sebanyak 841 halaman kepada Menteri ESDM untuk kali ketiganya.

"Jadi belum selesai, tapi menuju arah selesai dan mudah-mudahan akhir bulan ini (selesai) kalau tidak ada kendala, setelah lapor dan dapat arahan dari Pak Menteri," paparnya.

Setelah mendapatkan arahan Menteri ESDM, maka pihaknya akan mempelajari dan mendiskusikan kembali dengan PLN.

"Mekanismenya itu. Tentu saja kejadian Covid-19 yang mulai 2020-2021 mudah-mudahan tidak berlanjut. Sedikit banyak pengaruhi projek-projek di RUPTL, ini tak terhindarkan," jelasnya.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading