Jokowi Geram Subsidi Pupuk Tak Jelas, Ternyata Ini Sebabnya

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
11 January 2021 14:37
Presiden Joko Widodo dalam Peresmian Pembukaan Rapat Kerja Nasional Pembangunan Pertanian Tahun 2021, 11 Januari 2021 (Tangkapan Layar Youtube Sekretariat Presiden)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Joko Widodo mengeluhkan dampak minimnya produktivitas hasil pangan meski pupuk mendapat subsidi triliunan tiap tahunnya. Ke mana larinya subisidi pupuk yang besar itu sehingga tak signifikan bagi produktivitas pertanian di Indonesia?

Ketua Harian DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Entang Sastraatmadja menyebut pemilihan pupuk anorganik atau kimia dibanding pupuk organik bisa jadi menjadi penyebab.

"Kebijakan pupuk sudah sejak lama, diawali revolusi hijau tahun 1970an. Dari awal kita nggak punya semangat pupuk organik, semangatnya pupuk anorganik atau kimia. Pak Harto bikin pabrik-pabrik pupuk seperti Kujang Sriwijaya dan lain untuk memenuhi kebutuhan itu," katanya kepada CNBC Indonesia, Senin (11/1/21).


Ketika awal mula menanam memang ada produktivitas tinggi, namun setelah puluhan tahun lahan itu menjadi lahan pertanian, kini produktivitasnya sudah berbeda.

"Dulu direkomendasikan oleh pemerintah pupuk urea untuk 1 hektare Butuh 250 Kg pada 20-30 tahun lalu, hasilnya itu 5-6 ton. Sekarang nggak bisa lagi, lahannya sudah sakit, jadi lahan-lahannya sudah keras, petani nggak bisa 250 Kg, sekarang sudah 500 Kg, jadi sudah 2x, lahan pertanian kita sakit," sebutnya.

Untuk itu, pemerintah bisa mengalihkan kebijakan subsidi pupuk selama ini kepada subsidi anggaran lain. Demi meningkatkan produktivitas, petani lebih senang mendapat jaminan harga yang layak untuk setiap komoditas yang dijual.

"Ke depan pupuk ini diberi harga yang nggak jauh dengan non subsidi, jadi pemerintah bisa mengalihkan subsidi itu bukan ke tingkat input, tapi subsidi ke output. Mungkin dalam kebijakan harga supaya harga petani stabil, petani senang menanam karena ada jaminan dari pemerintah," kata Entang.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading