LG & CATL Kuasai 55% Pasar Baterai Dunia, Begini Target RI

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
06 January 2021 20:00
Korea Energy Show 2013 di COEX, Seoul (Dok: LGEPR)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Indonesia sudah melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan LG Energy Solution untuk membangun pabrik baterai senilai US$ 9,8 miliar atau sekitar Rp 142 triliun, Jumat (18/12/2020) lalu.

Tidak hanya dengan LG, perusahaan asal China yakni Contemporary Amperex Technology atau CATL juga dikabarkan berminat untuk investasi bangun pabrik baterai di Indonesia.


Kedua perusahaan ini merupakan dua produsen baterai kelas kakap dunia, bahkan keduanya menguasai 55% dari pasar baterai dunia.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Tim Percepatan Pabrik Baterai Kendaraan Listrik (Electric Vehicle/ EV Battery) Nasional, Agus Tjahajana Wirakusumah.

"Alhamdulillah, nomor satu dan dua (LG dan CATL) merupakan pemain-pemain di pasar itu. Kalau ditanya berapa besarnya, kedua perusahaan itu menguasai hampir 50% lebih, hampir 55% pasar dunia, dari baterai," ungkapnya dalam wawancara bersama CNBC Indonesia, Rabu (06/01/2021).

Meski demikian, menurutnya ada hal yang perlu dicatat juga, bahwa keduanya juga sudah punya banyak pabrik di masing-masing negaranya, misalnya di China, Polandia, dan Kanada.

Oleh karena itu, meski mereka berinvestasi di Indonesia, nantinya tidak bisa disebut Indonesia menjadi produsen yang terbesar. Namun, imbuhnya, ada kontribusi Indonesia untuk pemain-pemain besar tersebut.

"Berapa besar, apakah kita bisa kuasai 20%-30% dari kedua perusahaan itu, itu sangat bergantung dari competitiveness. Dua pemain ini yang kita sebutkan adalah pemain besar dan kita akan ikut di dalam proses itu," jelasnya.

Dilansir dari Korea Times, pihak LG Energy Solution menyebutkan MoU yang dilakukan merupakan perjanjian investasi yang bersifat tidak mengikat. Namun tidak dijelaskan lebih lanjut mengenai detail MoU ini.

Tak hanya LG, perusahaan Korea lainnya yakni Posco juga akan terlibat dari proyek investasi bernilai ratusan triliun rupiah ini dengan LG Energy Solution sebagai pimpinan konsorsium.

Selain dengan LG dan CATL, Indonesia juga sedang melakukan pendekatan dengan Tesla. Bahkan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan pihaknya akan melakukan diskusi dengan Tesla pada Februari 2021 untuk mengembangkan kerja sama pembangunan industri mobil listrik di Tanah Air.

Menurutnya, diskusi ini sebagai salah satu langkah RI menjadi pemain utama industri mobil listrik.

"Insya Allah, di bulan Februari ini, saya akan membuka pembicaraan dengan Tesla untuk mengembangkan kerja sama ini," jelas Erick dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (02/01/2021).

Dia mengungkapkan sejumlah alasan mengapa Indonesia akan menjadi pemain utama industri mobil listrik. Sejalan dengan misi Presiden Jokowi yang ingin mendorong Indonesia menjadi pemain utama dalam industri mutakhir, menurutnya ini didukung oleh kekayaan sumber daya alam Indonesia.

Sebagai salah satu negara dengan sumber daya nikel yang terbesar, hal ini mendukung Indonesia menjadi produsen utama sumber daya baterai mobil listrik.

"Baterai sendiri merupakan komponen utama dalam produksi mobil listrik. Dengan kekayaan alam yang kita miliki tentu harus didukung pula dengan kualitas sumber daya manusia kita agar mampu menjadi produsen utama dalam industri mobil listrik," kata Erick.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading