Tahu-Tempe Langka, Terus yang Salah Petani Kedelai Gitu?

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
04 January 2021 16:18
Pekerja beraktivitas di Rumah Produksi Tahu di kawasan Lebak Bulus, Jakarta, Senin (4/1/2021). Produksi tahu di lokasi ini kembali dilanjutkan setelah beberapa hari belakangan mogok akibat naiknya harga kedelai yang mencapai Rp9.200 per kilogram dari harga normal Rp72.00 per kilogram. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tahu dan tempe menjadi barang langka yang sulit ditemui dalam beberapa hari terakhir, penyebabnya karena stok kedelai yang menipis serta harganya mahal. Hal ini karena Indonesia masih ketergantungan kedelai impor, kedelai lokal kontribusinya masih minim.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan di dalam negeri, petani kedelai di Indonesia tak banyak memiliki minat besar untuk berkecimpung tanaman kedelai. Padahal, kebutuhan kedelai setiap tahunya makin bertambah. Ini karena masalah harga kedelai yang tak menarik bagi petani.

"Kondisi ini menyebabkan pengembangan kedelai oleh petani sulit dilakukan. Petani lebih memilih untuk menanam komoditas lain yang punya kepastian pasar," kata Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, Senin (4/1/2021).


Ia mengklaim Kementan fokus melipatgandakan produksi atau ketersediaan kedelai dalam negeri. Produksi kedelai dalam negeri harus bisa bersaing baik kualitas maupun harganya melalui perluasan areal tanam dan mensinergikan para integrator, unit-unit kerja Kementan dan pemerintah daerah.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Suwandi menambahkan faktor lain yang menyebabkan kenaikan harga kedelai impor yakni ongkos angkut yang juga mengalami kenaikan. Waktu transport impor kedelai dari negara asal yang semula ditempuh selama 3 minggu menjadi lebih lama yaitu 6 hingga 9 minggu.

Suwandi menjelaskan dampak pandemi covid 19 menyebabkan pasar global kedelai saat ini mengalami goncangan akibat tingginya ketergantungan impor. Peluang ini tentunya dimanfaatkan Kementan untuk meningkatkan pasar kedelai lokal dan produksi kedelai dalam negeri.

"Kita melakukan MoU antara Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) dengan Gabungan Kelompok Tani dengan investor dengan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan untuk meningkatkan kemitraan produksi dan memaksimalkan pemasaran serta penyerapan kedelai lokal milik petani," tuturnya.

Untuk diketahui, tingginya impor kedelai bukan semata-semata karena faktor produksi. Namun demikian, hal tersebut terjadi karena disebabkan kondisi kedelai merupakan komoditas non lartas yang bebas impor kapan saja dan berapun volumenya tanpa melalui rekomendasi Kementan.

Terkait harga kedelai saat ini terjadi kenaikan yang cukup signifikan sekitar 35 persen merupakan dampak pandemi covid 19, utamanya produksi di negara-negara produsen seperti Amerika Serikat, Brasil, Argentina, Rusia, Ukraina dan lainnya. Harga kedelai impor yang selama ini digunakan oleh pengrajin tahu tempe di negara asal sudah tinggi, sehingga berdampak kepada harga di Indonesia menjadi lebih tinggi lagi.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading