Bad News 2020

Bye 2020, Masa Terpuruknya Sektor Energi dan Tambang

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
01 January 2021 16:15
[DALAM] Harga Minyak Drop

Jakarta, CNBC Indonesia - Tahun 2020 menjadi tahun yang berat bagi semua sektor, tak terkecuali sektor energi. Pandemi Covid-19 membuat sektor energi mengalami banyak tekanan, mulai dari harga minyak yang anjlok, konsumsi bahan bakar minyak (BBM) turun drastis bahkan terendah sepanjang masa, konsumsi listrik juga jeblok, dan sederet isu lainnya.

Harapan kita tentu sama, agar pandemi Covid-19 cepat berlalu, sehingga kondisi segera pulih. Berikut rangkuman beberapa isu buruk di sektor energi dan tambang pada 2020 akibat adanya pandemi:

1. Anjloknya Harga Minyak


Sudah satu tahun lalu sejak pasien corona pertama di Wuhan, China terinfeksi virus Covid-19, tepatnya pada 1 Desember 2019. Kemudian virus menyebar ke seluruh dunia dan berdampak ke berbagai sektor, termasuk energi.

Banyak negara yang melakukan pembatasan demi menekan penyebaran virus. Akibat pembatasan ini, konsumsi energi seperti bahan bakar minyak (BBM) tertekan, sehingga berdampak pada harga minyak mentah dunia yang anjlok gara-gara kelebihan pasokan.

Harga minyak mentah sempat menyentuh harga di bawah US$ 40 per barel. Misalnya pada Minggu (5/4/2020) harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) anjlok 9,2% menjadi US$ 25,72 per barel, sementara harga patokan internasional, minyak mentah Brent turun 8,7% menjadi US$ 31,15 per barel. Bahkan, untuk pertama kalinya dalam sejarah harga kontrak WTI yang aktif diperdagangkan jatuh ke teritori negatif.

Mengantisipasi anjloknya harga minyak, sekutu penghasil minyaknya OPEC+, berhasil merampungkan perjanjian soal pemangkasan produksi minyak. Dampaknya, harga minyak melonjak lebih dari 3% setelah produsen emas hitam dunia mengurangi produksi. Negara-negara ini sepakat memangkas produksi sebesar 9,7 juta barel per hari (bph) yang merupakan terbesar sepanjang sejarah.

Benchmark AS West Texas Intermediate naik 3,4% ke US$ 23,55 per barel. Sementara Brent, yang jadi patokan internasional, naik 3,1% menjadi 32,46 per barel.

Pada September harga minyak masih di bawah US$ 40 per barel. Brent sebagai acuan internasional turun tajam dengan koreksi 5,3% dari posisi perdagangan sehari sebelumnya. Di saat yang sama harga minyak acuan AS yaitu West Texas Intermediate (WTI) juga terjun bebas dengan anjlok 7,6%.

Pada Rabu (9/9/2020), pukul 08.00 WIB harga minyak Brent turun 0,15% ke US$ 39,72 per barel dan WTI terpangkas 0,27% ke US$ 36,66 per barel.

Namun, harga minyak akhirnya berangsur-angsur naik sampai menyentuh angka di atas US$ 40 per barel. Harga Brent sebelumnya US$ 52,02 menjadi US$ 51,97. Sementara itu West Texas Intermediate atau WTI bertambah 1,4% menjadi US$ 48,92.

Analis OANDA, Jeffrey Halley menyatakan jika penandatanganan aturan oleh Trump kemungkinan bisa menjadi ukuran peningkatan. "Akan menempatkan di bawah harga minyak dalam minggu yang singkat," ungkapnya, dikutip Reuters, Senin (28/12/2020).


2. Konsumsi BBM Jeblok, Pertamina Sebut Terendah Sepanjang Masa

Pemerintah menerapkan banyak pembatasan dan pergerakan massa demi menekan penyebaran Covid-19. Akibatnya, konsumsi bahan bakar minyak (BBM) ikut anjlok.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati mengatakan sejak imbauan berkegiatan dari rumah, seperti work from home atau bekerja dari rumah, sekolah dari rumah, hingga ibadah di rumah digaungkan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah pada Maret lalu, konsumsi bahan bakar minyak (BBM) masyarakat turun sangat signifikan.

Di sebagian daerah, penurunan konsumsi BBM untuk produk bensin Premium dan Perta series mencapai 16,78% per hari dibanding Januari dan Februari 2020.

"Dengan berlakunya PSBB di DKI Jakarta, ini semakin tertekan," kata Nicke saat rapat dengar pendapat bersama Komisi VII DPR RI, Kamis (16/4/2020).

Untuk Jakarta, lanjut Nicke, penurunan konsumsi BBM lebih anjlok lagi, yakni mencapai 59% dibandingkan kota-kota lain.

"Situasi yang belum pernah terjadi, ini sales terendah sepanjang sejarah Pertamina," jelasnya.

Hal ini tentu saja berdampak besar pada operasional kilang dan keuangan perusahaan.

Penjualan juga turun untuk produk gas oil atau Solar. Berdasarkan data Pertamina, konsumsi rata-rata Solar turun 8,38% dibanding Januari dan Februari 2020.

Di tengah konsumsi yang anjlok ini, Pertamina berupaya mendorong penjualan dengan memberikan insentif pada pelanggan. Perseroan mendorong upaya pengantaran langsung ke konsumen dengan mengoptimalkan sumber daya yang ada seperti ojek online.

"Makanya, kami kasih cashback ke ojek online," kata Nicke saat menggelar konferensi pers virtual, Kamis (30/4/2020).

Kondisi Pertamina makin menjadi-jadi dengan melemahnya rupiah, "Sebab spending kita 93% baik Opex maupun Capex adalah dolar, padahal kita jual produk pakai rupiah," tuturnya.

Akibatnya, terdapat selisih kurs dan membuat pengeluaran dan pemasukan Pertamina tak imbang-imbang.


3. Penjualan Listrik PLN Jeblok

Berkurangnya kegiatan industri, dibatasinya kegiatan perniagaan, dan aktivitas perkantoran akibat pandemi Covid-19 membuat penjualan listrik PT PLN (Persero) juga jeblok pada tahun ini. Bahkan PLN sampai merevisi rencana kerja tahun ini.

Direktur Utama PT PLN (Persero) Zulkifli Zaini mengatakan dampak dari pandemi Covid-19 membuat permintaan di sistem Jawa dan Bali turun sekitar 11%. Kemudian konsumsi listrik di pelanggan bisnis turun 15% dan industri turun 11%.

Meski ada kenaikan konsumsi listrik pada pelanggan rumah tangga, namun tidak bisa menutup daripada penurunan konsumsi dari pelanggan bisnis dan industri. Sehingga perlu adanya penyesuaian rencana kerja Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2020.

"Ini dalam proses untuk kami sampaikan pada pemegang saham, untuk membuat RKAP baru revisi RKAP 2020," ungkapnya dalam wawancara bersama CNBC Indonesia, Rabu, (3/06/2020).

Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan penjualan listrik pada semester I 2020 turun sebesar 6,33%.

Dari sisi wilayah, konsumsi listrik masyarakat yang anjlok cukup tajam yaitu terjadi di Bali mencapai minus 32,87%, lalu Banten minus 12,82%, Jawa Barat minus 10,57%, Jawa Tengah 6,28%, Sumatera Barat minus 7,12%, Sulawesi Selatan dan Tenggara minus 7,68%, dan DKI Jakarta minus 5,62%.

Dia mengatakan, sebagai upaya membantu masyarakat di tengah pandemi Covid-19, Kementerian ESDM melalui Ditjen Ketenagalistrikan telah menugaskan PT PLN (Persero) untuk memberikan diskon tarif bagi pelanggan rumah tangga (RT), bisnis, dan industri. Diskon ini menjadi bagian dari stimulus ekonomi yang diberikan.

"Bantuan ini bersifat sementara," ungkapnya dalam sebuah diskusi daring pada Rabu (23/09/2020).

Keringanan tarif listrik diberikan pemerintah itu antara lain untuk pelanggan rumah tangga (R1) berdaya 450 VA gratis dari April-Desember 2020 untuk 24,16 juta pelanggan, kemudian diskon 50% untuk pelanggan rumah tangga berdaya 900 VA April-Desember 7,72 juta pelanggan, pelanggan listrik golongan bisnis kecil (B1) berdaya 450 VA 500,1 ribu pelanggan dan industri kecil (I1) 450 VA dengan total 433 pelanggan diberikan diskon 100% dari Mei-Desember 2020.

Meski sempat sempat turun tajam, PLN mencatat penjualan listrik tahun 2020 berdasarkan data terakhir mengalami koreksi minus 0,2% year on year (yoy). Capaian ini dia sebut lebih baik dari proyeksi awal penjualan minus 0,6%.

PLN optimis seiring dengan pulihnya perekonomian, penjualan listrik akan tumbuh positif di tahun 2021 mendatang. Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PLN Bob Saril mengatakan PLN punya dua skenario untuk tahun depan.

Skenario pertama adalah optimis dengan proyeksi penjualan listrik akan tumbuh 4%. Lalu skenario kedua adalah pesimis dengan proyeksi penjualan listrik hanya 1,6%.

"Dengan kondisi pertumbuhan, kita dalam skenario optimisnya tumbuh 4%, dan 1,6% skenario pesimis terhadap proyeksi realisasi tahun 2020," ungkapnya kepada CNBC Indonesia, Selasa, (29/12/2020).

Masa Terberat Sektor Energi dan Tambang (2)
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading