'Babak Belur' di 2020, Industri Properti Cuan Tahun Depan?

News - Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
27 December 2020 17:30
Lippo Mall Puri (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pandemi Covid-19 sangat berdampak terhadap bisnis properti di tanah air. Hal itu tergambar pada anjloknya penjualan dan penyewaan properti dalam wujud rumah, mall, kantor dan apartemen.

Tapi menuju penghujung tahun, tepatnya kuartal III-2020, geliat bisnis properti sudah mulai menunjukan optimisme pasar. Semua itu tak lepas dari sejumlah kebijakan pemerintah seperti pengesahan UU Cipta Kerja dan rencana vaksinasi Covid-19.

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sudah memberikan sejumlah insentif fiskal dan alokasi anggaran belanja seperti Subsidi Selisih Bunga (SSB), Subsidi Bantuan Uang Muka (SBUM), Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT), Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS), Dana Alokasi Khusus Fisik (DAKF) serta dana bergulir fasilitas pembiayaan.

Tahun ini saja Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) sudah terserap sebesar Rp 9 Triliun, SBUM Rp 600 miliar dan SSB Rp 3,87 triliun. Di Tahun 2021 alokasi ditambah menjadi FLPP Rp 19,1 triliun, SBUM Rp 630 miliar dan SSB menjadi Rp 5,97 triliun.

Pemerintah optimis kinerja para pelaku sektor properti dan perumahan dapat diakselerasi. Pemerintah pun berhara perbankan dapat memaksimalkan peran menjadi penyalur dana pemerintah baik subsidi maupun dana program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang sudah dialirkan sejak Juni lalu.

Lalu, bagaimana tanggapan pelaku usaha terhadap bisnis properti tahun depan?



"Kita optimis semester kedua tahun 2021 bisa membaik. Kuartal IV tahun ini sudah membaik kondisinya dibanding kuartal II dan III," kata Wakil Direktur Utama PT Metropolitan Kentjana Jefri Tanudjaja kepada CNBC Indonesia TV seperti ditulis, Minggu (27/12/2020).

Dia mencontohkan, pada November lalu, bisnis perhotelan sudah membaik seiring upaya pemerintah yang menghabiskan anggaran. Imbasnya, terlihat banyak rapat di hotel.

Tapi dia masih khawatir dengan jumlah pengunjung mall yang masih tumbuh tipis. Semua itu diduga karena daya beli masyarakat yang rendah akibat menahan belanja dan aturan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

"Yang kami harapkan adalah pengunjung mall. Mall itu efeknya besar sekali ratusan penyewa ratusan supplier, ratusan outsourcing yang terlibat di situ," jelasnya.

Perusahaan PT Metropolitan Kentjana Tbk (MKPI) sendiri mencatat pendapatan di tahun 2020 anjlok 50% dibanding 2019 dengan profit anjlok hingga 60%. Sementara emiten pemilik Pondok Indah Mall ini menyebut 2021 penjualan di segmen strata title bisa mencapai Rp 300 miliar.

Dari keterbukaan hingga kuartal III 2020, pendapatan MKPI sebesar Rp 903,34 miliar, turun tajam 30,7 % dari periode sama tahun sebelumnya yang tercatat Rp 1,304 triliun. Sementara laba perusahaan juga anjlok 52% menjadi Rp 199,5 miliar dari Rp 420,7 miliar di kuartal III-2019.



[Gambas:Video CNBC]

(miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading