Harga Batu Bara Terbang atau Ambles, Gasifikasi Tetap Cuan!

News - Tirta Widi Gilang Citradi, CNBC Indonesia
14 December 2020 19:45
PT Bukit Asam/PTBA. doc PTBA

Jakarta, CNBC Indonesia - Perbaikan fundamental di pasar akibat meningkatnya kebutuhan batu bara di India dan China dan pemangkasan produksi di negara-negara produsen membuat harga si batu legam terangkat. Kenaikan harga yang signifikan ini menimbulkan pertanyaan terkait keekonomian proyek hilirisasi batu bara yang tengah digenjot di Tanah Air, terutama proyek gasifikasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME).

Dalam enam bulan terakhir harga kontrak batu bara Newcastle maupun kontrak untuk batu bara Indonesia dengan kalori rendah 4.200 Kcal/Kg telah naik lebih dari 40%. Harga batu bara acuan juga naik dobel digit. Di saat yang sama harga minyak dan gas juga mengalami kenaikan, tetapi belum pulih ke level sebelum pandemi Covid-19.


Kenaikan harga batu bara yang signifikan sebagai bahan baku produksi DME tentu akan berdampak pada nilai keekonomian proyek gasifikasi batu bara Tanah Air, apalagi di tengah rendahnya harga minyak dan gas.

Namun, untuk melihat aspek nilai keekonomian suatu proyek diperlukan beberapa analisa seperti biaya produksi, perkembangan permintaan di pasar, teknologi yang digunakan, harga produk substitusi (LPG) hingga insentif yang diberikan oleh regulator.

Saat ini pemerintah tengah menggenjot hilirisasi batu bara untuk menghasilkan DME. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah mewujudkan kemandirian energi. Pasalnya, selama ini konsumsi LPG di Indonesia terus meningkat sejak keberhasilan konversi minyak tanah ke LPG hampir dua dekade silam.

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) salah satu emiten batu bara pelat merah menggaet PT Pertamina (Persero) dan Air Products untuk menggarap proyek gasifikasi batu bara menjadi DME di Tanjung Enim, Sumatra Selatan.

Proyek tersebut akan menelan biaya investasi sebesar US$ 2,1 miliar atau lebih dari Rp 30 triliun. Dalam proyek ini, Air Products berperan sebagai investor dan skema kerja sama yang digunakan adalah Build-Operate-Transfer (BOT) selama 20 tahun.

Artinya, setelah habis masa berlakunya BOT, maka proyek ini akan menjadi proyek patungan (joint venture/JV) antara PTBA dan PT Pertamina (Persero), meski belum lama ini Direktur Utama PTBA Arviyan Arifin menyebutkan adanya opsi PTBA dan Pertamina bisa memiliki saham di proyek ini setahun setelah proyek ini beroperasi. Untuk saat ini PTBA akan memasok batu bara kalori rendahnya sebagai bahan baku.

Setiap tahunnya konsumsi batu bara dari proyek tersebut mencapai 6 juta ton atau hampir 22% dari volume penjualan dan produksi batu bara PTBA saat ini. Dari volume pasokan batu bara tersebut, dapat menghasilkan 1,4 juta ton DME yang bisa mengganti 980 ribu ton impor LPG yang setara dengan penurunan 10%-17% impor pada periode 2019-2024.

Tim Kajian Hilirisasi batu bara Balitbang ESDM mengklaim studi kelaikan PT Bukit Asam (PTBA) menghasilkan keekonomian proyek dengan Net Present Value (NPV) sebesar US$ 350 juta dan Internal Rate of Return (IRR) sekitar 11%. Melihat angka tersebut, maka proyek ini masih ekonomis alias tidak rugi.

IEEFA Nilai Proyek Gasifikasi Batu Bara RI Tak Ekonomis, Yakin?
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading