Crazy Rich RI Tajir Karena Jualan Rokok? Nggak Juga Lho...

News - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
10 December 2020 08:56
Ilustrasi Rokok.(CNBC Indonesia/Syahrizal Sidik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Wakil Presiden Indonesia ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla (JK) menyinggung soal rokok dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh INDEF kemarin (9/12/2020). Dalam pernyataannya tersebut JK memandang bahwa rokok yang menjadi ciri khas ekonomi Indonesia yang menjadi pembeda. 

Namun sayangnya, keunikan yang disebut oleh JK cenderung punya konotasi yang negatif. JK mencontohkan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang maju karena teknologi sehingga para crazy rich-nya juga berasal dari sektor tersebut. 

Di India sektor energi yang maju dan di Korea Selatan serta Jepang sektor teknologinya yang maju. Sementara itu di Indonesia orang-orang terkayanya justru berasal dari mereka yang berbisnis rokok. 


"Di Indonesia paling beda dengan negara-negara lain di dunia ini. Orang terkaya nomor satu, dua, dan tiga pengusaha rokok berarti orang Indonesia berani-berani, meski di bungkusnya ditulis dapat menyebabkan kanker, kematian tetap saja rokok maju. Jadi orang Indonesia berani walau diancam kanker dia nggak peduli. Sehingga orang paling kaya 1,2,3 itu pengusaha rokok. Di mana di dunia ini yang kaya gitu? Nggak ada," sebut JK

Pernyataan laki-laku kelahiran Watampone (Sulawesi Selatan) tersebut ada benarnya. Namun ada juga bagian yang kurang tepat. Untuk itu mari kita cek faktanya.

Mengacu pada data Tobacco Atlas, Indonesia berada di peringkat 30 sebagai negara dengan konsumsi rokok terbanyak di dunia pada 2016. Jumlah perokok berusia di atas 16 tahun di Indonesia mencapai 39%. 

Setiap tahunnya masyarakat Indonesia dengan usia lebih dari 16 tahun mengkonsumsi 1.675 batang rokok per orang per tahun. Indonesia masih kalah dengan China yang total konsumsinya mencapai 2.063 batang per orang per tahun kala itu. 

Setiap tahunnya masyarakat Indonesia menghisap ratusan miliar batang rokok. Data industri menunjukkan pada periode Januari-September 2020 volume penjualan rokok nasional mencapai 201,7 miliar batang. Fantastis!

Itu pun sebenarnya turun 9% dibanding periode yang sama tahun lalu. Pandemi Covid-19 membuat daya beli masyarakat tergerus, di sisi lain pertimbangan aspek kesehatan juga menjadi faktor menurunnya penjualan rokok. 

Jika diasumsikan harga satu batang rokok adalah Rp 1.500, maka total penjualan rokok dalam kurun waktu sembilan bulan pertama tahun 2020 mencapai Ro 302,6 triliun. Jelas ini nominal yang sangat besar untuk ukuran pasar rokok. 

Mirisnya lagi rokok kretek filter merupakan komoditas kontributor terbesar kedua setelah beras untuk garis kemiskinan. Baik di desa maupun di kota sumbangsih rokok terhadap garis kemiskinan mencapai lebih dari 10%. 

Sampai di sini kita bisa melihat potret banyak masyarakat Indonesia yang kecanduan merokok. Merokok memang sudah menjadi kultur yang melekat bagi kehidupan masyarakat di Indonesia. Tak peduli kalangan menengah ke bawah sampai kelas atas. Pria maupun wanita. Bahkan jumlah perokok wanita dan anak terus bertambah setiap tahunnya.

Crazy Rich Indonesia Tak Cuma Berbisnis Rokok
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading