Ledakan Pengangguran Terjadi di Negara Ini, RI Aman?

News - Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
09 December 2020 19:30
Health workers react as people applaud in the street in support of the medical staff working during the coronavirus outbreak, at the main gate of the Hospital Clinic, on International Nurses Day, Tuesday, May 12, 2020 in Barcelona, Spain. (AP Photo/Emilio Morenatti)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejak pandemi Covid-19 melanda, Amerika Serikat (AS) terus mengalami penurunan angka lapangan kerja. Terhitung hingga saat ini, Negeri Paman Sam masih mencatatkan defisit sebesar 10 juta lapangan kerja.

Menurunnya ketersediaan lapangan kerja di AS mengakibatkan setidaknya 22 juta pekerja tercatat kehilangan pekerjaannya. Padahal di awal pandemi bergulir para petinggi di Gedung Putih menjanjikan ketersediaan lapangan pekerjaan tetap dapat dikontrol.

Mantan Kepala Biro Statistik Tenaga Kerja dan Profesor di Universitas Cornell, Erica L Groshen mengatakan walaupun sudah banyak masyarakat AS yang kembali bekerja, masih sekitar 10 juta orang yang membutuhkan lapangan pekerjaan.


Dengan bertambahnya kasus covid yang terus menyentuh rekor baru dan buruknya laporan tenaga kerja pada bulan November, membuat para ekonom takut ekonomi AS akan bangkit lebih lama dari yang diharapkan. Tentunya hal ini akan berimbas buruk pada para pekerja.

"Kita masih melihat kelemahan pada pada pasar tenaga kerja," kata Erica, Selasa (8/12).

Terbaru, laporan tenaga kerja dari The Bureau Labour Statistic (BLS) mengindikasikan November ini AS ketambahan 245 ribu pekerjaan baru, dan tingkat pengangguran turun 6,7%. Tapi laporan ini masih membuat khawatir ekonom pasalnya masih banyak tenaga kerja AS yang masih belum dipekerjakan kembali.

Ekonom Glassdoor Daniel Zhao juga mengkhawatirkan kondisi ekonomi Amerika, walaupun ada peningkatan data tenaga kerja dan menurunnya tingkat pengangguran. Peningkatan ini menurutnya wajar, karena jika dikorelasikan dengan wilayah peningkatan berasal dari para pekerja yang dirumahkan sementara saat pandemic. "Ini tidak mengagetkan karena kebanyakan mereka dipanggil kembali untuk bekerja," katanya.

Tapi yang menjadi perhatian adalah naiknya porsi orang yang tidak bekerja lama dan semakin sulit untuk dipekerjakan karena hilangnya koneksi dengan pemberi kerja. Jadi untuk mereka dipekerjakan ulang akan membutuhkan waktu yang panjang dan upah mereka kebanyakan sudah terpotong.

Mantan Ketua Ekonom Departemen Ketenagakerjaan dan Profesor di Universitas Georgetown Harry J. Holzer mengatakan, Kebanyakan orang melihat kondisi ekonomi saat ini sudah pulih. Tapi yang harus diperhatikan adalah adanya catatan pengangguran yang jangka panjang dan matinya banyak bisnis.

"Banyak yang mengira pasar tenaga kerja sudah kembali naik lebih cepat, tapi ini sebenarnya melambat," katanya.

Apa yang bisa dilakukan?

Holzner dan Groshen menyarankan untuk mengganti bidang lain yang prospektif untuk mendapatkan kesempatan baru. Mereka melihat adanya sektor lain yang berkembang

"Resesi telah mempercepat perubahan structural ekonomi. Dan tren itu sejalan dengan automation, dan jenis pekerjaan berbasis online," kata Groshen.

Untuk menghindari resesi akibat Covid - 19 bisa dilakukan dengan cara memberikan bantuan uang kepada orang yang membutuhkan dan memperbanyak jenis dan keuntungan asuransi pengangguran.

Peraturan pemberian uang US$ 600 terhadap masyarakat yang tidak bekerja dapat membantu penganggur. Dari keuntungan itu pendapatan personal mencapai US$ 290 tahun depan.

Greoshen menambahkan Pemerintah bisa menambah dorongan dengan meningkatkan pengeluaran di beberapa sektor area. Salah satunya adalah infrastruktur seperti proyek jalan raya, jembatan dan rumah sakit, yang dapat mendorong pesat penetrasi penerimaan pekerja.

"Selain itu sistem pendidikan juga harus dibenahi dengan, karena masyarakat yang menderita kebanyakan berasal dari masyarakat kurang berpendidikan," katanya.

Dalam konteks Indonesia pun tak jauh berbeda. Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengakui Indonesia akan dihadapkan pada situasi kelam akibat pandemi Covid-19. Kepala negara lantas meminta seluruh elemen pemangku kepentingan bekerja secara cepat.

Hal tersebut dikemukakan Jokowi saat memberikan pengarahan dalam Pertemuan Tahunan BI 2020 yang digelar secara virtual, melalui laman You Tube resmi bank sentral, Kamis (3/12/2020).

"Kita harus begerak cepat karena masih banyak pekerjaan rumah yang belum kita selesaikan," tegas Jokowi.

Jokowi mengatakan, Indonesia akan dihadapkan pada besarnya jumlah pengangguran akibat pemutusan hubungan kerja di masa pandemi. Selain itu, juga besarnya kebutuhan lapangan pekerjaan baru.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading