Ini Keunggulan RI Biar Bisa Gaet Tesla Cs

News - Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
02 December 2020 20:05
Ilustrasi baterai pada mobil listrik yang dikemas dalam komponen yang aman. electrec.co

Jakarta, CNBC Indonesia - Beberapa produsen mobil listrik global mulai melirik kerja sama dengan perusahaan RI untuk pembangunan pabrik baterai kendaraan listrik. Salah satu pemicunya yakni tak lain karena besarnya sumber daya dan cadangan nikel di Tanah Air yang menjadi bahan baku komponen baterai kendaraan listrik.

Ketua Tim Percepatan Proyek Baterai Kendaraan Listrik Nasional Agus Tjahajana Wirakusumah mengatakan banyak perusahaan Original Equipment Manufacturer (OEM) global mencari Indonesia. Perusahaan OEM merupakan perusahaan yang memproduksi barang asli lalu menjualnya ke perusahaan lain, yang kemudian dijual dengan merek perusahaannya.

Menurutnya, hal tersebut langkah yang sangat dimaklumi, terutama karena dari sektor hulu, cadangan nikel RI sangat melimpah.


"Bahan baku jenis sulfida nikel yang jadi bahan baku baterai ini makin langka, kita punya jenis laterit yang bisa digunakan sangat banyak," kata Agus yang juga menjabat sebagai Komisaris Utama Holding BUMN Pertambangan MIND ID atau Inalum kepada CNBC Indonesia, Rabu (02/12/2020).

Dia menjelaskan, jenis nikel sulfida sebenarnya ada juga berada di bagian bumi utara dan selatan. Namun karena ketersediaannya sedikit membuat harga bahan baku baterai itu menjadi semakin mahal dan letaknya sangat dalam di perut bumi. Indonesia memiliki nikel jenis laterit yang berada di permukaan, sehingga harganya bisa menjadi lebih murah.

"Kita memiliki daya saing yang sangat tinggi, sehingga perusahaan yang berinvestasi di sini punya keuntungan jangka panjang," katanya.

Selain itu, lanjutnya, di sisi hilir dengan pasar mobil yang diprediksi mencapai 2 juta unit per tahun pada 2040, akan berdampak pada meningkatnya permintaan baterai kendaraan listrik.

Dia juga menjelaskan harga baterai mobil listrik merupakan komponen paling mahal dari kendaraan listrik yakni mencapai 35%-40% dari harga mobil. Untuk itu, hitung-hitungan pengurangan nilai biaya juga menjadi tujuan para produsen.

Tapi kapan realisasinya? Agus menjelaskan perjalanan Indonesia memproduksi baterai kendaraan listrik masih cukup jauh. Tapi dia berharap RI dapat menjadi hub untuk pasar mobil listrik global. Ini artinya, tidak hanya memasok untuk kebutuhan dalam negeri, tapi juga kebutuhan pasar Asia Tenggara.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading