Kasus Covid-19 di RI Sering Cetak Rekor, Perlu Rem Darurat?

News - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
01 December 2020 17:10
Warga menjalani tes usap atau swab test di GSI Lab (Genomik Solidaritas Indonesia Laboratorium), Cilandak, Jakarta, Senin (2/11/2020). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Angka pertambahan kasus infeksi Covid-19 di Indonesia terus memburuk. DKI Jakarta dan Jawa Tengah menjadi penyumbang pertumbuhan infeksi wabah paling signifikan belakangan ini. 

Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun sampai menyentil duo gubernur Anies Baswedan-Ganjar Pranowo soal peningkatan kasus yang terjadi. Sedihnya, tak butuh waktu lama setelah Wakil Gubernur DKI Jakarta Riza Patria diumumkan positif mengidap Covid-19, Gubernur Anies Baswedan pun dinyatakan terinfeksi hari ini. 

Kasus Covid-19 di DKI Jakarta dan Jawa Tengah naik drastis. Kasus sempat bertambah sampai 2.000 infeksi dalam sehari di Jawa Tengah, sementara di DKI Jakarta kasus meledak mendekati level 1.500.


Alhasil pertambahan kasus infeksi nasional sempat tembus rekor tertinggi selama wabah terjadi. Pada 29 November pekan lalu kasus infeksi di RI tercatat bertambah mencapai 6.267.

Ledakan jumlah kasus baru ini jelas sangatlah mengkhawatirkan. Momentumnya pun bersamaan dengan faktor cuaca yang bisa memperburuk kondisi wabah. Akhir tahun di negara tropis seperti Indonesia biasanya bertepatan dengan musim penghujan.

Curah hujan tinggi akibat La Nina di Indonesia berpotensi menyebabkan bencana hidro-meteorologis seperti banjir dan tanah longsor. Banjir selain menimbulkan kerugian ekonomi juga memiliki konsekuensi terhadap munculnya berbagai jenis penyakit seperti tifus, demam berdarah dan influenza.

Di Indonesia fluktuasi kasus sebenarnya juga tak bisa dilepaskan dari angka tes Covid-19 yang dilakukan. Konsekuensi digenjotnya tes Covid-19 adalah peningkatan angka pertambahan kasus. 

Namun tidak tepat bila melihat fenomena pertambahan kasus hanya dari kacamata tes saja. Lagipula tes Covid-19 yang dilakukan sampai sekarang pun masih cenderung inkonsisten dan tidak representatif. Artinya jumlah sebenarnya penderita Covid-19 di Tanah Air seharusnya lebih dari 530 ribu yang dilaporkan saat ini.

Fakta di lapangan banyak juga yang mendukung transmisi penyebaran wabah. Fenomena pulang kampung ke daerah Jawa Tengah saat libur akhir bulan Oktober lalu harus dibayar mahal dengan lonjakan kasus Covid-19 di wilayah tersebut. 

Kerumunan massa yang belakangan terjadi di DKI Jakarta juga ditengarai menjadi faktor yang meningkatkan keganasan penyebaran virus tak kasat mata yang membahayakan jiwa itu.

Kendornya protokol kesehatan di kalangan masyarakat melalui 3M (memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak) adalah potret mengerikan yang sebenarnya meningkatkan risiko pandemi Covid-19 makin tak terkendali. 

Berkaca dari Eropa Soal Lockdown
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading