Cerita Pilu Icha, Sang Penyitas Covid-19

News - Yuni Astutik, CNBC Indonesia
26 November 2020 14:35
Infografis/ Strategi Ampuh Melandaikan Covid-19/Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Jumlah pasien yang dirawat akibat Covid-19 terus bertambah jumlahnya, salah satunya adalah Icha Atmadi yang pernah menjadi salah satu pasien.

"Saya, suami dan ayah kena (covid-19). Suami panas tinggi seperti DBD, dengan panas naik turun, tapi pusing tidak hilang. Feeling tidak enak karena penciuman hilang," katanya secara virtual di Jakarta, Kamis (26/11/2020).

Saat mengetahui positif, awalnya Icha merasa takut dan tak berani untuk bercerita kepada siapapun. Hal ini terkait stigma negatif bagi orang yang terpapar Covid-19.


"Kami yang pertama di daerah kami yang kena pada 16 Agustus itu. Covid-19 ini untuk gejala ringan pun, berpengaruh ke psikis dan rasanya badan sakit semua," ujarnya.

Icha dan suami tergolong pasien dengan gejala sedang. Namun, ayahnya masuk ke golongan berat yang harus dirawat di RS, dan harus dibantu dengan ventilator.

"Saat ke RS karena tergolong penuh, kami diminta isolasi mandiri. Dari proses itu sampai dinyatakan negatif selama 25 hari," terangnya.

Soal biaya, Icha menyebut awalnya harus merogoh kocek masing-masing Rp 2 juta untuk biaya swab test. Namun saat di RS, dia mengaku tidak keluar uang sepeserpun.

"Kalau sampai biaya sendiri pasti mahal sekali," tuturnya.

Menanggapi biaya RS, Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof. dr. Hasbullah Thabrany memprediksi untuk perawatan lebih dari 30 hari per orang bisa lebih dari Rp 100 juta.

"ICU bisa Rp 15 juta per hari. Luar biasa mahal. Semoga pemirsa memahami, jangan merasa enak (dibiayai). Sakit dengan kehilangan pendapatan harian, kalau punya usaha sendiri, sudah berapa yang hilang. Ini tidak bisa dihitung dengan uang," katanya.

Saat ini, ongkos rumah sakit memang masih menjadi tanggungan pemerintah. Sebab, hal ini sesuai dengan kebijakan yang berlaku. Namun, kondisi akan jauh berbeda jika vaksin sudah tersedia.

"Setelah ada vaksin, tidak boleh dihitung masa pandemi. Negara tak tanggung, kalau kita tak ada jaminan, bayar sendiri. Kalau ada BPJS, ya BPJS bayar. Risiko berat kalau tak ada jaminan. Kalau tak mau vaksin, berat, bisa habiskan Rp 200-300 juta," pungkasnya.


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading