Internasional

Awas! Utang Domestik China Mau 'Meledak'

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
24 November 2020 10:18
Red flags flutter outside the Great Hall of the People before the second plenary session of the Chinese People's Political Consultative Conference (CPPCC) in Beijing, China March 8, 2018. REUTERS/Aly Song

Jakarta, CNBC Indonesia - Analis meminta pemerintah China mengurangi pinjaman untuk luar negerinya karena utang domestik negara itu yang menggunung.

China beberapa tahun terakhir sangat aktif dalam memberikan pinjaman dalam program "One Belt One Road/OBOR alias Belt and Road/BRI" untuk pembangunan infrastruktur Asia, Eropa, dan Afrika.

Analis mengatakan pandemi corona (Covid-19) telah menguras kocek Beijing amat dalam.

Seperti dituliskan South China Morning Post (SCMP), Institute of International Finance (IIF) menyatakan bahwa utang perusahaan non-keuangan di China naik menjadi lebih dari 165% produk domestik bruto (PDB) pada kuartal III (Q3) 2020, dari 150% di kuartal sama tahun lalu.

Pertumbuhan utang ini tidak hanya yang tertinggi di antara negara-negara berkembang tetapi juga telah melampaui semua pasar maju.

Sementara total utang China di sektor rumah tangga, pemerintah, dan perusahaan non-keuangan naik menjadi hampir 290% dari PDB. Ini belum termasuk utang keuangan untuk menghindari potensi penghitungan ganda. Ada peningkatan 225% dari setahun sebelumnya.

Selain itu, utang luar negeri China juga meningkat, sebagian karena dorongan negara untuk mengakuisisi aset asing. Dari data regulator devisa China Oktober lalu, angkanya mencapai US$ 2,13 triliun (Rp 30 ribu triliun) pada akhir Juni, naik US$ 75,1 miliar atau 3,7%, dibanding akhir 2019.

Alicia Garcia-Herrero, kepala ekonom untuk Asia-Pasifik dari firma keuangan Natixis mengatakan bahwa Negeri Panda harus lebih selektif lagi dalam memberikan pinjaman.

"China perlu lebih selektif dalam proyek-proyek yang dapat dibiayai, terutama di negara berkembang. Negara-negara BRI yang berada di tengah-tengah proyek infrastruktur besar, dan juga berutang budi padanya, mungkin tidak lagi menemukan sumber daya yang tersedia untuk melanjutkan proyek-proyek ini, " ucap Garcia-Herrero, dikutip Selasa (24/11/2020).

Sejauh ini, tidak ada angka resmi tentang jumlah total pinjaman dan investasi dalam proyek BRI. Tetapi menurut penyedia data Refinitiv, pada Q1 2020, nilai proyek, termasuk proyek dengan keterlibatan China, melebihi US$ 4 triliun untuk pertama kalinya.

Di antaranya, 1.590 proyek - senilai US$ 1,9 triliun - merupakan proyek BRI. Sementara 1.574 proyek lainnya dengan nilai gabungan US$ 2,1 triliun diklasifikasikan sebagai proyek keterlibatan China lainnya.

Dalam sebuah laporan yang diterbitkan bulan ini, grup kredit asuransi Prancis Euler Hermes memperkirakan bahwa 10 negara Afrika dan Amerika Latin yang telah mendapat manfaat dari keterlibatan kuat China sejak 2010. Yakni Argentina, Brasil, Ekuador, Angola, Mesir, Ethiopia, Ghana, Kenya, Selatan. Afrika dan Zambia.

Namun mereka akan menghadapi kekurangan pembiayaan eksternal sebesar US$ 47 miliar pada tahun 2025. Ini bisa terjadi bila China melepas secara bertahap pembiayaan proyek infrastrukturnya.



(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading