APBN 2020 Defisit Rp 764,9 T, Ini Penyebabnya

News - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
23 November 2020 16:48
Konferensi pers APBN KiTa November 2020 (Tangkapan Layar Youtube Kemenkeu RI)

Jakarta, CNBC Indonesia - Hingga akhir Oktober 2020, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sudah mencatat defisit Rp 764,9 triliun atau 4,67% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini datang dari penerimaan negara sebesar Rp 1.276,9 triliun sementara belanja lebuh besar yaitu Rp 2.041,8 triliun.

Sebagai catatan, realisasi penerimaan negara per akhir Oktober adalah 75,1% dari target dalam Peraturan Presiden (Perpres) No 72/2020. Sedangkan realisasi belanja negara setara dengan 74,5% dari target.

Di sisi penerimaan, setoran perpajakan (pajak dan bea cukai) per akhir Oktober tercatat Rp 991 triliun atau 70,6% dari target. Dibandingkan dengan Januari-Oktober 2019, terjadi penurunan 15,6%. Sedangkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) adalah Rp 94,8 triliun atau 94,8% dari target. Dibandingkan periode yang sama pada 2019, PNBP turun 16,3%.


Kemudian penerimaan hibah ada di Rp 7,1 triliun atau 548,6% dari target. Melonjak 439,7% dibandingkan Januari-Oktober 2019. 

"Pendapatan secara keseluruhan tumbuh negatif 15,4%. Ini seiring masih terbatasnya aktivitas ekonomi dan adanya pemanfaatan stimulus perpajakan," kata Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan, dalam jumpa pers APBN Kita edisi November 2020, Senin (23/11/2020).

Kemudian di sisi belanja, pemerintah pusat menyerap Rp 1.342,8 triliun hingga akhir Oktober atau 68% dari target. Angka ini naik 19,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Lalu transfer ke daerah dan dana desa terserap Rp 698 triliun atau 91,4%. Angka ini sama dengan kenaikan 3,1% dari Januari-Oktober 2019.

"Belanja negara secara keseluruhan mencapai 74,5% dari pagu, tumbuh 13,6%. Ini untuk mendukung kinerja program PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional)," lanjut Sri Mulyani.


(aji/aji)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading