Eropa & Inggris Bakal Kena 'Resesi Kambuhan'! Indonesia Juga?

News - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
23 November 2020 14:16
A worker pulls a cart full of goods at the Tanah Abang Market in Jakarta, Indonesia, Thursday, Nov. 5, 2020. Indonesia's economy entered its first recession since the Asian financial crisis more than two decades ago as the country struggles to curb the coronavirus pandemic under control. (AP Photo/Dita Alangkara)

Fenomena double dip recession di Eropa dan Inggris terjadi karena negara-negara di kawasan tersebut kembali menerapkan lockdown. Bagi Indonesia yang menerapkan pembatasan yang lebih longgar melalui PSBB, fenomena tersebut kemungkinan tak terjadi. Bahkan jangan sampai terjadi. 

Tren kasus Covid-19 di RI masih cenderung naik. Bahkan sempat tembus rekor sampai ada tambahan 5.000 kasus dalam sehari terhitung dua pekan setelah libur panjang satu minggu saat Maulid Nabi Muhammad SAW, akhir Oktober lalu. 

Namun PSBB yang diterapkan saat ini dan periode perpanjangannya dirasa sudah tidak lagi efektif karena tak ada penurunan kasus yang signifikan, berbeda dengan Eropa dan Inggris yang lockdown-nya berhasil menekan angka pertambahan kasus. 


Tren peningkatan mobilitas yang terjadi di berbagai lokasi meskipun belum pulih memiliki dua konsekuensi. Pertama adalah peningkatan kasus dan kedua adalah peningkatan aktivitas ekonomi. 

Apabila tren peningkatan ekonomi terus berlanjut kecil kemungkinan Indonesia bakal mengalami apa yang terjadi di Inggris dan Zona Euro. Untuk meredam kejatuhan ekonomi lanjutan akibat pandemi Covid-19 kebijakan fiskal ekspansif dan moneter akomodatif juga ditempuh oleh pemangku kebijakan. 

Pemerintah sebagai otoritas fiskal menganggarkan dana Rp 677 triliun atau 4,4% PDB untuk memulihkan perekonomian. Sebanyak lebih dari Rp 200 triliun dialokasikan untuk bantuan sosial guna menjaga daya beli masyarakat RI yang menjadi tulang punggung ekonomi RI.

Bank sentral nasional juga sudah menginjeksi likuiditas lebih dari Rp 670 triliun ke perbankan melalui penurunan giro wajib minum (GWM) maupun operasi moneter ekspansif dengan harapan bisa digunakan untuk menggenjot roda perekonomian. 

Suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate juga dipangkas 125 basis poin (bps) dengan harapan masyarakat mau meminjam uang ke bank untuk konsumsi dan korporasi untuk ekspansi dan mendanai modal kerjanya. 

Berbagai data ekonomi terbaru menunjukkan bahwa Indonesia on track menuju pemulihan ekonomi. Namun masih berisiko dengan lemahnya permintaan yang ditandai dengan inflasi inti yang melambat dan kecenderungan masyarakat untuk menabung. 

Bagaimanapun juga dengan adanya risiko tersebut jika pemerintah tidak secara tiba-tiba mengerem laju ekonomi yang terjadi belakangan ini, double dip recession kemungkinan kecil terjadi.

Pada kuartal keempat kemungkinan ekonomi masih terkontraksi dibanding tahun lalu memang ada. Namun apabila dilihat secara kuartalan ada potensi ekonomi meningkat walau lajunya lebih lambat.

Semua pasti berharap resesi tak akan terjadi berkepanjangan di Tanah Air, karena ketika ekonomi RI mengalami kontraksi untuk pertama kalinya sejak krisis moneter 1998, angka pengangguran langsung bertambah 2,7 juta dan nyaris 10 juta orang di Indonesia menyandang status 'menganggur'. 

Kenaikan jumlah pengangguran di dalam negeri pun berbuntut panjang. Adanya penurunan pendapatan terutama di kalangan masyarakat menengah ke bawah yang rentan miskin berpotensi besar meningkatkan angka kemiskinan ke level dobel digit dan menghapus upaya bertahun-tahun untuk menurunkannya ke bawah 10%. 

Amit-amit lah pokoknya jangan sampai terjadi double dip recession di dalam negeri. 

TIM RISET CNBC INDONESIA


(twg/twg)
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading