Akibat Libur Panjang, Kasus Jabar & Jateng Melesat

News - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
18 November 2020 06:28
Wiku Adisasmito juru bicara gugus tugas percepatan penanganan Corona memberi Keterangan Pers Juru Bicara terkait Update Data Covid-19 Nasiona. (Youtube/Sekretariat Presiden)

Jakarta, CNBC Indonesia- Satgas Penanganan Covid-19 menyatakan provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah mengalami peningkatan kasus terkonfirmasi positif, akibat libur panjang akhir Oktober 2020.

Data 21 - 27 Oktobar 2020, sebelum libur panjang, persentase kasus positif di Jawa Tengah sebesar 13,53% dan Jawa Barat sebesar 15,4%. Setelah libur panjang pada 4 - 10 November 2020, terjadi peningkatan di Jawa Tengah menjadi 17,4% dan Jawa Barat menjadi 16,31%.


"Ini menandakan terjadi peningkatan penularan yang sangat signifikan pada dua provinsi tersebut," ujar Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito saat memberi keterangan pers di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (17/11/2020), sebagaimana disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden. 

Untuk itu, Wiku meminta daerah-daerah yang mengalami perubahan yang kurang baik, seharusnya menjadikan hal ini pengingat dan meningkatkan upaya penanganan Covid-19 di wilayahnya masing-masing. 

Wiku menambahkan sebagian kabupaten/kota di Jabar dan Jateng yang sebelumnya berada di zona oranye berpindah ke zona merah. Rinciannya di antaranya di Jawa Barat terdapat di Bandung, Tasikmalaya, Purwakarta dan Kota Cimahi. Di Jawa Tengah terdapat di Banjarnegara, Boyolali, Sukoharjo, Sragen, Kendal, Tegal dan Brebes.

Pada kesempatan yang sama Wiku mengatakan perkembangan penanganan Covid-19 berdasarkan peta zonasi risiko pekan ini, terlihat sesuai harapan. Karena terjadi perubahan signifikan pada zona oranye atau risiko sedang. Penurunan jumlah daerah zona oranye cukup banyak, dari 370 kabupaten/kota pekan lalu, menjadi 345 kabupaten/kota pada pekan ini.

"Ini adalah langkah yang kita harapkan, karena sejak awal pandemi, kabupaten/kota dengan zona oranye paling banyak diantara zona risiko lainnya," ujarnya.

Namun yang menjadi catatan, zona merah atau zona risiko tinggi, dari 27 kabupaten/kota menjadi 28 kabupaten/kota. Juga pada zona kuning atau risiko rendah, terjadi peningkatan dari 97 menjadi 121 kabupaten/kota. Lalu pada zona hijau tidak ada kasus baru meningkat dari 9 kabupaten/kota menjadi 10 kabupaten/kota. Dan pada zona hijau tidak terdampak menurun dari 11 menjadi 10 kabupaten/kota.

Apresiasi diberikan pada 53 kabupaten/kota yang berpindah dari zona oranye ke zona kuning. Wiku menambahkan, hal ini berarti mengalami perubahan yang baik setelah berminggu-minggu tidak ada perubahan pada zona oranye, akhirnya mengalami perubahan yang baik dari risiko sedang menjadi risiko rendah.

"Kepada provinsi-provinsi lainnya yang masih bertahan di zona oranye atau zona merah, mohon dapat menekan angka kasus positif dan angka kematian, serta terus meningkatkan angka kesembuhan agar dapat segera berpindah ke zona kuning dan zona hijau," ujarnya.


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading