Pengusaha Sakit Hati, Ngotot Minta Anies Cabut PSBB DKI

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
17 November 2020 16:17
Suasana gedung perkantoran di Jakarta, Kamis (20/9/2018). Lembaga riset properti Colliers International Indonesia dalam laporannya menyebutkan ada 500.000 ribu square meter lahan perkantoran baru yang siap disewakan di Jakarta hingga akhir 2018. Di mana 64% di antaranya berada di kawasan sentral bisnis atau Central Business Dictrict (CBD).Sayangnya, naiknya jumlah kantor tidak diikuti dengan kenaikan permintaan. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kalangan pengusaha hotel dan restoran kompak meminta pencabutan terhadap pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi yang diterapkan oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Mereka mengaku sakit hati karena pemprov DKI Jakarta dianggap tak adil dalam pengawasan protokol.

Usut punya usut, ternyata permintaan itu tidak lepas dari 'kecemburuan' yang terjadi di lapangan. Dimana dunia usaha tidak bisa berjalan normal selama beberapa bulan, sedangkan aktivitas kerumunan yang mengumpulkan ribuan massa dibiarkan.

"Setuju, setuju banget (PSBB transisi dicabut). Kita semua pengusaha resto dan hotel, semua nge-rem. Kelebihan orang di ruangan diusir, nggak boleh. Sedangkan biaya kita bergulir terus. Kita tahu demi keselamatan bersama. Tapi lain sisi kok ada pembiaran, lupakan ormasnya, kepada pihak lain yang nggak menerapkan (protokol kesehatan) itu dan itu benar-benar menyakitkan semua orang, baik bagi pengusaha dan relawan," kata Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DKI Jakarta Krishandi kepada CNBC Indonesia, Selasa (17/11).


Ia coba mengingat momen beberapa waktu lalu, dimana saat itu sulit untuk mengadakan kegiatan apapun di hotel. Potensi bertahan dengan meraup omset yang ada pun menjadi sirna. Padahal, acara sejenis itu yang menjadi harapan agar hotel bisa bertahan.

"Waktu itu untuk meeting nggak boleh, kawinan nggak boleh. Yang boleh 25-35 orang, itu pun di KUA atau catatan sipil. Kita tahu Oktober, November, dan Desember bulan baik untuk agama apapun untuk menikah. Sekarang di sisi lain kita melihat 10 ribu orang," sebutnya.

Krishandi menilai perbedaan perlakuan itu yang membuat pelaku usaha meminta adanya pencabutan PSBB transisi. Ia yakin ekonomi bisa berjalan lebih baik. Namun di lain sisi, ragu kondisi ekonomi akan normal seperti sedia kala dalam waktu dekat.

"Harapan gitu (normal), tapi kembali ke normal seperti tahun lalu belum lah. Orang pada ngerem juga, tapi akan memberi keleluasaan bagi bisnis. Melakukan travel tapi tentu lebih menjaga diri. Kelompok tua ngerem. Mungkin tadinya sering ke Jakarta, mungkin nanti dikasih generasi muda. Tapi dengan bergulir itu ada income masuk bagi pengusaha," katanya.

Desakan agarPSBB transisi diDKI Jakarta dicabut muncul saat VIWI Board sebagai himpunan dari 18 asosiasi industri pariwisata meminta pembatasan sosial berskala besar (PSBB) DKI Jakarta agar dicabut.

"Kita perhatikan puncaknya kemarin, banyak masyarakat yang tidak disiplin, kami jadi susah sebagai sebagai sektor rill dibatasi segala macam, berdampak buruk secara ekonomi," kata Ketua Umum Apindo Hariyadi Sukamdani.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Mal DKI Sepi Bak 'Kuburan', Dihantam PSBB Hingga Demo Rusuh


(hoi/hoi)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading