Riset Bank Mandiri

Bukan V, Pemulihan Ekonomi Justru Berbentuk Pola U

News - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
01 November 2020 13:19
Nurses gather holding placards with the names of their colleagues who died in their fight against the new coronavirus pandemic, during a protest marking International Nurses Day, in Brasilia, Brazil, Tuesday, May 12, 2020. (AP Photo/Eraldo Peres)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pada kuartal kedua ketika pandemi Covid-19 merebak, banyak kalangan memperkirakan ekonomi bakal terkontraksi tajam, dan kemudian berbalik menguat hingga membentuk kurva V. Namun kini, kurva U justru diyakini kian terbentuk.

Dalam laporan berjudul "Road to Economic Recovery: Paving the Way to a Sustainable Recovery", Mandiri Group Research menyebutkan pemulihan ekonomi di tengah pandemi bakal tak berimbang, di mana aliran modal masuk (baik investasi langsung maupun portofolio) tersedot ke negara yang pulih cepat ketimbang yang lambat.

"Menurut kami, tahun 2020 kemungkinan besar akan berakhir dengan pemulihan berbentuk kurva U, dan bukannya kurva V, kecuali untuk China dan Vietnam. Kunci pemulihan yang cepat akan terletak pada akselerasi penanganan Covid-19 dan vaksin yang teruji," demikian tulis riset grup Mandiri yang dipimpin Ekonom Andry Asmoro tersebut.


Namun, lanjut dia, sikap konservatif harus dikedepankan di tengah tingginya ketakpastian. Pertumbuhan ekonomi 2021 akan sangat sulit diterka, mengingat bergantung pada temuan vaksin yang teruji yang mengubah pola pemulihan ekonomi: pembalikan cepat atau tetap flat.

Implikasi dari pemulihan berbentuk U ini adalah pembalikan harga komoditas seperti karet, minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), nikel, dan tembaga yang lebih lambat dan tak serempak. Harga CPO, karet, dan tembaga pulih 1,8%, 16,9%, dan 11,2% secara tahun berjalan, tetapi harga batu bara masih melalui pola berbeda yakni anjlok 14,3% pada periode yang sama.

Impor China atas batu bara asal Indonesia masih anjlok 12% secara tahun berjalan. Hal ini terhitung mengejutkan karena Chin sudah memasuki musim dingin yang seharusnya mendongkrak permintaan energi. Pasokan dan suplai batu bara domestik di China kemungkinan masih berlimpah, sehingga mereka mengoptimalkan produk dalam negerinya.

Namun, risiko yang perlu dicatat dan membayangi 2021 adalah perubahan arah kebijakan moneter dan fiskal di negara maju, khususnya Amerika Serikat (AS), yang bisa menciptakan tekanan kurs di tengah defisit neraca berjalan yang tinggi.

"Ini mengingatkan kami pada taper tantrum 2013 ketika investor asing cabut dari negara emerging market untuk kembali berburu portofolio aman di negara maju. Kala itu, merespons aliran modal keluar, kebanyakan bank sentral menaikkan suku bunga acuan dan mengakhiri periode suku bunga rendah," tutur Andry, yang meyakini suku bunga global naik mulai 2022.

Meski Beda Fokus, Stimulus Masih Diperlukan
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading