Bukan Exxon, Raksasa Energi AS Kini Produsen Green Energy!

News - Wilda Asmarini, CNBC Indonesia
30 October 2020 13:58
FILE PHOTO: An airplane comes in for a landing above an Exxon sign at a gas station in the Chicago suburb of Norridge, Illinois, U.S., October 27, 2016. REUTERS/Jim Young/File Photo                           GLOBAL BUSINESS WEEK AHEAD

Jakarta, CNBC Indonesia - Exxon Mobil Corporation kini tak lagi menjadi perusahaan bidang energi terbesar di Amerika Serikat, walau sempat menduduki sebagai perusahaan publik terbesar di AS berdasarkan nilai pasar.

Kini, posisi perusahaan energi terbesar di AS diduduki oleh NextEra Energy Inc, produsen energi surya dan angin terbesar dunia, berdasarkan nilai kapitalisasi pasar (market capitalization). Bahkan, posisi Exxon Mobil kini berada di bawah rivalnya yakni Chevron Corporation, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (30/10/2020).

Tekanan pada industri minyak dan gas bumi pada tahun ini, dimulai dari turunnya permintaan minyak global hingga anjloknya harga minyak dunia akibat pandemi Covid-19 mengakibatkan perusahaan ini selama tiga kuartal berturut-turut mencatatkan kerugian.


Bahkan, kemarin, Kamis (29/10/2020) Exxon Mobil mengumumkan akan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kepada sekitar 14.000 karyawan di berbagai negara secara global karena lemahnya permintaan migas global akibat pandemi.

Dikutip dari Reuters pada Jumat (30/10/2020), nilai saham Exxon telah anjlok lebih dari setengah nilainya pada tahun ini ke level terendah selama dua dekade. Saham perusahaan telah dihapus dari Dow Jones Industrial Average setelah hampir satu abad keanggotaan, dan kini harus menghadapi pertanyaan apakah perusahaan dapat mempertahankan dividennya.

Exxon memangkas jumlah karyawan dan pengeluaran proyek, tetapi terjebak dengan rencana untuk terus membayar dividen yang menelan biaya hampir US$ 15 miliar atau sekitar Rp 220,5 triliun (asumsi kurs Rp 14.700 per US$) per tahun.

Saat ini Exxon memiliki yield dividen sebesar 10%, sebagian besar karena penurunan harga saham. Pemotongan dividen dinilai akan mengganggu secara signifikan dengan banyaknya investor, kata Mark Stoeckle, Manajer Portofolio Senior di Adams Funds, yang memegang sekitar US$ 46 juta di saham Exxon.

Saldo kas perusahaan diperkirakan bisa habis jika harga minyak AS CLc1 tetap di bawah US$ 45 per barel karena utangnya. Exxon dapat menjual aset untuk mempertahankan dividen, namun itu merupakan sebuah pemikiran yang tidak menarik bagi banyak analis.

"Hal terakhir yang harus dilakukan Exxon adalah menempatkan dirinya pada posisi di mana ia dipaksa untuk menjual aset semata-mata dengan tujuan mencari uang ekstra untuk membayar dividen," kata analis Raymond James Pavel Molchanov.

Sebelum terjadinya pandemi, Kepala Eksekutif Darren Woods menghabiskan banyak uang untuk meningkatkan produksi dan membalikkan keuntungan yang merosot dengan taruhan pada permintaan yang meningkat. Ini menempatkan taruhan besar di lapangan shalegas AS, kilang minyak, plastik dan lepas pantai Guyana, yang merupakan salah satu penemuan minyak terbesar pada dekade ini.

Tahun ini, perusahaan memangkas rencana belanja modal sebesar US$ 10 miliar menjadi sekitar US$ 23 miliar. Utangnya pun telah meningkat 60% sejak Woods mengambil alih pada 2017.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading