Cadangan Nikel RI Bisa 39 Tahun, Selangkah Jadi Raja Baterai!

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
28 October 2020 16:25
A worker poses with a handful of nickel ore at the nickel mining factory of PT Vale Tbk, near Sorowako, Indonesia's Sulawesi island, January 8, 2014. REUTERS/Yusuf Ahmad

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia kini tengah mendorong hilirisasi industri mineral, mulai dari pembangunan proyek pabrik stainless steel hingga baterai mobil listrik. Komponen utama yang dibutuhkan untuk membangun pabrik tersebut yaitu nikel.

Lalu sebenarnya berapa besar kekayaan nikel Indonesia? Apakah cukup untuk membangun pabrik baterai ke depannya?

Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM Yunus Saefulhak mengatakan cadangan terbukti nikel Indonesia saat ini mencapai 1,08 miliar ton dan ini hanya bisa bertahan hanya sekitar sembilan tahun.


Sementara untuk cadangan terkira, menurutnya mencapai 4,5 miliar ton dan ini cukup untuk diproduksi hingga 39 tahun.

"Cadangan terbukti (proven reserves) itu 1,08 miliar ton. Kalau kita lakukan dengan produksi yang sekarang itu, umurnya hanya sembilan tahun. Tetapi berdasarkan cadangan terkira itu 4,5 miliar ton, sehingga bisa sampai 39 tahun," papar Yunus dalam wawancara bersama CNBC Indonesia, Rabu (28/10/2020).

Dengan cadangan sebesar ini, menurut Yunus, Indonesia punya cadangan nikel terbesar di dunia. Produksinya pun menurutnya juga terbesar di dunia. Selain nikel, Indonesia juga kaya akan mangan dan kobalt. Adanya sejumlah potensi kekayaan mineral yang dimiliki Indonesia ini menjadikan cita-cita Indonesia menjadi produsen baterai nomer satu bukan hal yang musatahil.

"Kita ini punya nikel terbesar di dunia ya, produksinya juga terbesar di dunia. Dan kita punya mangan, punya kobalt, maka cita-cita negara kita menjadi No.1 industri baterai dunia ketika mobil listrik itu ada di kita, maka tentunya pemerintah melakukan kebijakan untuk menyetop namanya ekspor nickel ore," jelas Yunus.

Pelarangan ekspor ini hanya untuk bijih nikel, karena ke depannya pemerintah akan mendorong ekspor produk hilir nikel, sehingga nilai jual menjadi lebih tinggi dibandingkan ketika ekspor bijih.

"Boleh ekspor, tapi produk-produk yang sudah barang jadi, salah satunya tentunya ke depan adalah baterai," ujarnya.

Pemerintah Indonesia kini tengah mendorong pembangunan hilirisasi industri nikel menjadi baterai hingga mobil listrik, terutama karena banyaknya sumber daya nikel di Tanah Air. Hal ini sangat beralasan pemain kendaraan listrik seperti Tesla berminat membangun pabrik baterai di Indonesia.

Setidaknya ada tiga perusahaan baterai mobil listrik kelas dunia selain Tesla akan berinvestasi membangun pabrik baterai mobil listrik hingga mobil listrik, antara lain Contemporary Amperex Technology Co. Ltd. (CATL) asal China, LG Chem asal Korea Selatan, dan Hyundai asal Korea Selatan. Tak tanggung-tanggung, jumlah investasi yang akan digelontorkan berpotensi mencapai US$ 20 miliar.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan bahkan mengatakan adanya sumber daya mineral yang melimpah di negara menjadi kunci dalam pembangunan pabrik baterai hingga mobil listrik ke depannya.

"Untuk Anda yang lebih muda lagi, kita tahu Indonesia ini kaya, kita punya semua cadangan mineral untuk menjadi pemain kunci di industri baterai lithium, seperti lithium, cobalt, nikel, mangan, aluminium, copper (tembaga), dan graphite," tuturnya dalam acara INDY FEST 2020 pada Senin (19/10/2020).


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading