Produksi Batu Bara RI Sampai Q3 2020 Anjlok 9,8%

News - Wilda Asmarini, CNBC Indonesia
28 October 2020 12:31
Aktivitas bongkar muat batubara di Terminal  Tanjung Priok TO 1, Jakarta Utara, Senin (19/10/2020). Dalam satu kali bongkar muat ada 7300 ton  yang di angkut dari kapal tongkang yang berasal dari Sungai Puting, Banjarmasin, Kalimantan. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)  

Aktivitas dalam negeri di Pelabuhan Tanjung Priok terus berjalan meskipun pemerintan telah mengeluarkan aturan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) transisi secara ketat di DKI Jakarta untuk mempercepat penanganan wabah virus Covid-19. 

Pantauan CNBC Indonesia ada sekitar 55 truk yang hilir mudik mengangkut batubara ini dari kapal tongkang. 

Batubara yang diangkut truk akan dikirim ke berbagai daerah terutama ke Gunung Putri, Bogor. 

Ada 20 pekerja yang melakukan bongkar muat dan pengerjaannya selama 35 jam untuk memindahkan batubara ke truk. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Adanya pandemi Covid-19 berdampak pada semua lini bisnis perekonomian, termasuk batu bara. Melemahnya aktivitas perekonomian masyarakat berimbas pada penurunan permintaan batu bara dan akhirnya juga berdampak pada penurunan harga batu bara.

Di Indonesia, situasi ini tercermin dari produksi batu bara nasional di mana sampai September 2020 mengalami penurunan 9,8% menjadi 418,47 juta ton dari 463,9 juta ton pada periode Januari-September 2019.

Hal tersebut berdasarkan data Minerba One Data Indonesia (MODI) yang dipublikasikan dalam situs Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, seperti dikutip CNBC Indonesia pada Rabu (28/10/2020).


Bila dibandingkan dengan rencana penuh tahun ini sebesar 550 juta ton, artinya produksi batu bara selama sembilan bulan ini mencapai 76%.

Sementara dari sisi ekspor batu bara, selama sembilan bulan tahun ini tercatat telah mencapai 226,76 juta ton, turun 32,9% dari periode yang sama 2019 yang mencapai 338,16 juta ton.

Bila dibandingkan dengan rencana ekspor tahun ini sebesar 395 juta ton, ekspor sampai September ini artinya baru mencapai 57,4% dari target penuh tahun ini.

Kemarin, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto juga memproyeksikan penyerapan batu bara untuk kepentingan domestik (Domestic Market Obligation/ DMO) hanya mencapai 141 juta ton atau sekitar 90,9% dari target tahun ini 155 juta ton.

Menurutnya, melemahnya penyerapan batu bara di dalam negeri tahun ini karena dampak dari penyebaran virus corona atau Covid-19. Menurutnya, pandemi Covid-19 ini telah membuat kinerja sektor pertambangan sampai dengan Agustus 2020 mengalami kontraksi.

Kontraksi tersebut lah yang membuat pemerintah memperkirakan permintaan batu bara di domestik tidak mencapai target.

"Target permintaan batu bara domestik tahun ini sebesar 155 juta ton, namun (permintaan) domestik diperkirakan hanya akan mencapai 141 juta ton," jelas Airlangga dalam acara APBI-ICMA Award 2020 yang diselenggarakan secara virtual, Selasa (27/10/2020).

Selain itu, Airlangga juga menyampaikan, karena pandemi Covid-19, harga komoditas batu bara mengalami penurunan dari US$ 66,89 pada Februari, turun 35,95% atau hanya menjadi US$ 49,2 pada September 2020.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading