2 Proyek Gasifikasi Batu Bara Ini Bikin Hemat Devisa Rp 14 T!

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
27 October 2020 10:33
Aktivitas bongkar muat batubara di Terminal  Tanjung Priok TO 1, Jakarta Utara, Senin (19/10/2020). Dalam satu kali bongkar muat ada 7300 ton  yang di angkut dari kapal tongkang yang berasal dari Sungai Puting, Banjarmasin, Kalimantan. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)  

Aktivitas dalam negeri di Pelabuhan Tanjung Priok terus berjalan meskipun pemerintan telah mengeluarkan aturan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) transisi secara ketat di DKI Jakarta untuk mempercepat penanganan wabah virus Covid-19. 

Pantauan CNBC Indonesia ada sekitar 55 truk yang hilir mudik mengangkut batubara ini dari kapal tongkang. 

Batubara yang diangkut truk akan dikirim ke berbagai daerah terutama ke Gunung Putri, Bogor. 

Ada 20 pekerja yang melakukan bongkar muat dan pengerjaannya selama 35 jam untuk memindahkan batubara ke truk. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Joko Widodo secara tegas telah menyampaikan pentingnya hilirisasi batu bara, sehingga memiliki nilai tambah sebelum dijual atau diekspor. Salah satu bentuk hilirisasi batu bara yang akan didorong adalah gasifikasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME).

Nantinya, DME ini bisa menggantikanĀ LPG, sehingga impor LPGĀ pun bisa ditekan. Pada akhirnya, ini bisa menghemat devisa negara.

Septian Hario Seto, Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, mengatakan proyek gasifikasi batu bara nantinya bisa menghemat devisa hingga setidaknya Rp 14 triliun.


Potensi penghematan devisa itu berasal dari dua proyek gasifikasi batu bara menjadi DME yang dilakukan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) di Tanjung Enim, Sumatera Selatan dan Grup Bakrie di Batuta Coal Industrial Park (BCIP) di Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Adapun potensi penghematan devisa dari proyek DME PTBA diperkirakan mencapai Rp 8,7 triliun dan Grup Bakrie sekitar Rp 5 triliun.

"Penghematan devisa dari proyek DME di Sumatera Selatan oleh PTBA bisa Rp 8,7 triliun, sementara di Batuta tergantung harga methanol, tapi estimasi di US$ 300-350 juta, sekitar Rp 5 triliun ya," paparnya dalam wawancara bersama CNBC Indonesia, Selasa (27/10/2020).

Lebih lanjut dia mengatakan, pemerintah telah menyiapkan banyak insentif untuk hilirisasi batu bara, salah satunya yakni tertuang dalam Undang-Undang tentang Cipta Kerja di mana royalti batu bara yang melakukan hilirisasi bisa 0%. Menurutnya, insentif yang diberikan ini akan sangat membantu dalam mencapai nilai keekonomian.

"Ini sangat membantu, saya sudah lihat di methanol dan DME, kita lihat memang sangat membantu keekonomian dari proyek ini," tegasnya.

Sebelumnya, Presiden Jokowi meminta produsen batu bara untuk segera mengembangkan industri turunan batu bara, mulai dari peningkatan mutu atau upgrading, pembuatan briket batu bara, kokas, pencairan batu bara, gasifikasi batu bara sampai dengan campuran batu bara cair.

Proyeksi Kemenko Marves, Hilirisasi Batu Bara Hemat Devisa Rp 14 T(CNBC Indonesia TV)Foto: Proyeksi Kemenko Marves, Hilirisasi Batu Bara Hemat Devisa Rp 14 T(CNBC Indonesia TV)
Proyeksi Kemenko Marves, Hilirisasi Batu Bara Hemat Devisa Rp 14 T(CNBC Indonesia TV)

"Saya yakin dengan mengembangkan industri turunan batu bara ini, saya yakin dapat meningkatkan nilai tambah komoditas berkali-kali lipat, mengurangi core bahan baku yang dibutuhkan industri dalam negeri seperti industri baja, industri petrokimia," katanya saat memimpin rapat terbatas dengan sejumlah anggota kabinet melalui video conference di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Jumat (23/10/2020).

Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, impor LPG dalam lima tahun terakhir terus meningkat, bahkan pada 2019 impor LPG mencapai 5,7 juta ton atau senilai US$ 2,5 miliar.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading