Lagu Lama Diversifikasi Pangan: Sagu Bisa Gantikan Beras?

News - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
21 October 2020 08:36
Direktur Utama Perum BULOG Budi Waseso (kiri) meninjau gudang pengolahan beras RTR (Rice to Rice) di Gudang Bulog Divisi Regional (Divre) DKI Jakarta dan Banten yang berlokasi di Kelapa Gading, Jakarta Utara Rabu (2/9/2020). Didalam gudang tersebut para pekerja mengolah beras yang mengalami turun mutu untuk ditingkatkan kembali kualitasnya sebelum didistribusikan. Menurut salah satu petugas, gudang pengolahan beras dengan mesin RTR tersebut dapat memgolah beras yang mengalami turun mutu sebanyak 18 ton/jam. Usai diolah beras-beras yang telah ditingkatkan kualitasnya lalu di masukan kedalam karung kemasan 15kg. (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah menggencarkan lagi swasembada pangan. Kali ini pemerintah berencana untuk menjadikan sagu sebagai sumber potensi pangan pengganti beras.

Impor pangan di tengah menyusutnya lahan pertanian dan jumlah petani memang menjadi ancaman serius kedaulatan pangan Indonesia. Impor berbagai komoditas pangan di Indonesia pun terus meningkat.



Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi beras Indonesia di 2019 menurun sebesar 7,75% dibandingkan 2018 atau dari 33,94 juta ton menjadi 31,31 juta ton.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pada tahun 2010, impor beras 0,687 ton dan pada 2018 menjadi 2,25 juta ton. Impor kedelai tahun 2010 sebesar 1,74 juta ton menjadi 2,58 juta ton pada 2018.



Bahkan impor gandum melonjak tinggi dari 4,81 juta ton menjadi 10,09 juta ton pada 2018. Sementara impor daging dari 0,45 juta ton pada 2010 menjadi 0,75 juta ton pada 2018. Peningkatan juga terjadi pada impor garam, dari 2,08 juta ton pada 2010 menjadi 3,7 juta ton pada 2018.

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso menjelaskan, sumber pangan di Indonesia saat ini berlimpah, mulai dari ubi, jagung, hingga sagu. Dalam mendorong ketahanan dan kedaulatan pangan, dia mengatakan secara bertahap sudah mulai direalisasikan.

"Bulog bekerja sama dengan BPPT [Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi], Institut Pertanian Bogor, Kementerian Pertanian, Kementerian Perindustrian dan stakeholder lainnya, bagaimana untuk kita bergiat membangun pangan dari sagu dengan segala turunannya," jelas pria yang kerap disapa Buwas dalam video conference, Selasa (20/10/2020).

Populasi sagu di Indonesia tersebar di areal 5,5 juta hektar yang sebagian besar ada di kawasan timur Indonesia. Jumlah terbesar di Provinsi Papua, yakni 4,7 juta ha, Papua Barat 510.213 ha, dan Kepulauan Maluku 60.000 ha. Sisanya di Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi. Sebanyak 90% sagu dunia ada di Indonesia.

Sayangnya, kata Buwas, dari 5,5 juta hekta pengelolaan lahan sagu, Indonesia baru bisa mengelolanya 5% saja.

"Kalau ini bisa kelola 10% sampai 15% saja, maka sebenarnya sumber pangan kita selain beras, itu kita punya tambahan yang luar biasa," tuturnya.

Oleh karena itu, dalam waktu dekat ini, Bulog akan bekerja sama dengan beberapa pihak swasta untuk membangun pabrik-pabrik pengolahan sagu, termasuk ubi, dan singkong. Yang diharapkan dengan adanya kerja sama dengan pihak swasta ini, potensi sumber pangan selain beras bisa terwujud.

Buwas mengklaim pembangunan pabrik-pabrik pangan itu akan tersebar di 20 wilayah di Indonesia.

"Jadi prioritas ada 20 wilayah yang akan segera kita bangun pabrik-pabrik pengolahan sagu, termasuk singkong [...] Sudah mulai, produknya sudah jadi, sudah ada."

"Sudah kita edarkan ke beberapa provinsi wilayah, dan Insya Allah dalam waktu dekat justru akan kita edarkan di seluruh Indonesia," jelas Buwas.

Potensi Sagu di Indonesia

Di Indonesia, sagu dikenal sebagai bahan baku pati atau tepung yang dapat digunakan untuk membuat berbagai macam makanan, mulai dari papeda, sagu lempeng, hingga pempek.

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian (Kementan) Momon Rusmono menjelaskan, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam menghasilkan sagu. Sayangnya, saat ini hanya ratusan lahan yang baru bisa tergarap.

"Kalau kita rekapitulasi, potensinya mencapai 5,5 juta ha. Dari 5,5 juta ha baru 340.000 ha yang digunakan," jelas Momon dalam kesempatan yang sama.

Dari lahan 340.000 ha sagu yang digunakan, pun hanya bisa menghasilkan 3,57 ton per ha. Padahal sebetulnya, produktivitas sagu bisa bisa ditingkatkan hingga lebih dari 10 ton.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian, 96% lahan sagu di Indonesia masih dikelola oleh perkebunan rakyat, sisanya 4% dikelola oleh pihak swasta.

"Jadi dari 340.000 ha, 96% atau 302.000 ha ini perkebunan rakyat. Sedangkan pihak swastanya hanya 4%," ujar Momon.

Indonesia masih menemui beberapa tantangan dalam proses pengolahan sagu. Hal itu menyebabkan, sagu yang benar-benar bisa dihasilkan dengan kualitas yang baik hanya berkisar 41,44% saja.

Penyebab masih rendahnya produktivitas dan kualitas dari sagu yang dihasilkan di Indonesia itu, kata Momon karena pengolahannya masih terbilang sangat tradisional.

Pemerintah pun bersama-sama badan dengan berbagai perguruan tinggi akan menyediakan benih unggul, serta akan melakukan penanaman sagu dengan proses agrikultur yang baik dan pemupukan yang benar.

"Kementan akan menyiapkan norma, standar, prosedur, dan kriteria dalam meningkatkan produktivitas. Sementara itu, untuk meningkatkan kualitas, perlu ada pelatihan/bimbingan teknis," jelas Momon.

Momon juga menjelaskan, sagu merupakan sumber karbohidrat yang baik dengan kandungan karbohidratnya mencapai 85%, serta mengandung 365 kalori. Selain itu, sagu juga rendah gula.

"Jadi kalau mengonsumsi sagu dari aspek karbohidrat terpenuhi, dari sisi lain juga rendah gula," tuturnya.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading