Bunga KPR RI Selangit, Kapan Kita Bisa Beli Rumah Bos?

News - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
13 October 2020 15:27
Suasana Perumahan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Properti (FLPP) di Cibarengkok  Pengasinan, Kec. Gn. Sindur, Bogor, Jawa Barat, Senin (17/2/2020). PT Bank Tabungan Negara (BTN) (Persero) Tbk pada tahun 2020 meningkatkan layanan transaksi digital untuk menggaet calon debitur Kredit Pemilikan Rumah (KPR). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Memiliki rumah merupakan impian mayoritas masyarakat Indonesia lantaran tergolong ke dalam kebutuhan pokok. Namun untuk memiliki satu petak rumah di Indonesia terutama di kota-kota besar sangatlah susah terutama bagi kaum milenial yang baru saja meniti karir.

Ketika pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di atas 6% dan inflasi masih tinggi, harga rumah hunian di Tanah Air melonjak signifikan sampai dengan dobel digit atau lebih dari 10%. 

Namun seiring dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional sejak 2015-2020, pertumbuhan harga properti residensial ikut mengalami perlambatan.


Mengutip Survei Harga Properti Residensial keluaran Bank Indonesia (BI), indeks harga properti hunian pada kuartal II-2020 tumbuh 1,59% (yoy) dan menjadi pertumbuhan terendah sejak 2012.

Meski pertumbuhannya melambat, tetapi harga rumah masih terbilang mahal terutama untuk daerah-daerah perkotaan dan pinggiran ibu kota DKI Jakarta. Kenaikan harga tanah dan material bangunan serta konstruksi berbagai infrastruktur yang meningkatkan konektivitas turut menyebabkan harga rumah menjadi mahal.

Sebagai contoh untuk rumah di kawasan Beji, Depok dengan ukuran LB/LT 60/110 meter persegi pada tahun 2015 harganya masih berada di kisaran Rp 600 juta per unitnya. 

Namun setelah Jalan Tol Cijago seksi II terutama Kukusan dari arah Jagorawi dan Tol Krukut Depok Antasari (Desari) dari arah JORR dibangun dan dioperasikan, valuasi harga rumahnya menjadi Rp 1 miliar pada 2020 ini. Artinya ada kenaikan 13,3% per tahunnya. 


Selain harganya yang terus melambung tinggi terutama di daerah urban perkotaan, suku bunga KPR yang tinggi juga menjadi beban tersendiri bagi masyarakat dalam negeri. 

Maklum mayoritas masyarakat RI masih mengandalkan kredit KPR untuk memiliki rumah. Pada kuartal II-2020, 78,41% konsumen menggunakan fasilitas KPR untuk membeli hunian. Hanya 16,22% yang membeli dengan cara tunai bertahap (cash lunak) dan 5,37% yang benar-benar tunai (cash keras).

Di tahun 2017-2018, rata-rata suku bunga kredit KPR perbankan RI berada di atas 10% dan menjadi yang tertinggi di kawasan Asia. Bayangkan saja, saat itu Vietnam dan Filipina saja suku bunga KPR-nya hanya 9,18% dan 7,63%. Sementara itu suku bunga KPR di Malaysia hanya 4,44%. 

Seiring dengan adanya pelonggaran kebijakan moneter oleh BI, rata-rata suku bunga kredit KPR Indonesia pun turun. Sejak November 2018 - Juli 2020 BI-7 Day Reverse Repo Rate telah turun sebesar 200 basis poin (bps). Pada saat yang sama rata-rata suku bunga KPR nasional hanya turun 75 basis poin saja.

Rata-rata suku bunga kredit KPR perbankan Tanah Air berada di angka 8,5% pada Juli lalu, turun dari periode November 2018 yang berada di level 9,25%. 

Meskipun sudah turun, tetap saja suku bunga kredit KPR di level tersebut masih dinilai tinggi oleh masyarakat Indonesia. Apalagi di tengah pandemi Covid-19 seperti sekarang ini ketika daya beli tergerus. Hal ini dilaporkan oleh BI dalam survei properti residensialnya. 

Bayangkan saja, jika menggunakan rata-rata harga rumah dengan LB/LT 45/60 meter persegi di kota Depok harga rata-ratanya berada di kisaran Rp 500 juta - Rp 600 juta.

Jika seseorang memilih untuk membeli rumah dengan KPR tenor 20 tahun dengan asumsi suku bunga tetap fixed rate 8,5% maka maka total utang KPR yang harus dibayarkan mencapai lebih dari Rp 1 miliar. Artinya cicilan per bulannya bisa menyentuh angka Rp 3-4 juta (tergantung DP). Ini harga rumah di Depok bukan di Jakarta.

Bayangkan saja jika milennial baru masuk dunia kerja dan bergaji rata-rata Rp 5 juta per bulan. Tentu sangat susah bagi mereka untuk memiliki rumah dengan ukuran standard untuk layak huni di daerah sekitaran ibu kota. 

Mirisnya lagi, berdasarkan survei Rumah123.com yang dilakukan kurang lebih tiga tahun silam, hanya 5% dari kaum milennial yang tinggal di DKI Jakarta bisa membeli rumah di tahun 2020.

Sayang seribu sayang, sekarang sudah tahun 2020, pandemi Covid-19 yang melanda juga turut membebani kaum milennial yang juga tak luput menjadi korban PHK dan karyawan yang dirumahkan. Duh sedihnya.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Artikel Terkait
Features
    spinner loading