Bukan Resesi, Pengusaha Lebih Takut dengan Masalah Ini

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
23 September 2020 14:05
Suasana Gedung Kementrian di Kawasan Jakarta, Rabu 7/8. Pemindahan ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari Jakarta ke salah satu lokasi di Kalimantan membutuhkan anggaran yang tidak sedikit, mencapai Rp 466 triliun. Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan Salah satu komponen utama pendanaan bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). 
Potensinya sangat kasar. Pemetaan potensi aset di Medan Merdeka, Kuningan, Sudirman, dan Thamrin perkiraan Rp 150 triliun. Ini bisa menambal kebutuhan APBN. Tadinya dari APBN butuh Rp 93 triliun. Artinya dengan Rp 150 triliun bisa menutup untuk bangun istana, pangkalan TNI, dan kebutuhan rumah dinas. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Di atas kertas, status resesi adalah angka-angka. Menteri Keuangan Sri Mulyani menghitung ekonomi Indonesia akan berada di kisaran minus 2,9% hingga minus 1% pada kuartal III-2020 alias resesi. Perekonomian Indonesia kontraksi dua kuartal berturut-turut setelah pada kuartal II-2020 terkontraksi 5,32%.

Bagi pengusaha status resesi, tak terlalu menjadi kekhawatiran yang mendalam. Namun, justru yang ditakutkan pengusaha adalah pandemi covid-19 yang belum ada kepastian kapan berakhir.

"Bagi pengusaha kekhawatiran soal resesi itu pasti ada, tapi kekhawatiran itu tak seperti 2008 dan 1998, kalau dulu fundamental ekonomi rontok seperti perbankan, kalau sekarang kuat," kata Ketua DPD HIPPI DKI Jakarta/Anggota LKS Tripartit Nasional/Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Kadin DKI Jakarta Sarman Simanjorang, kepada CNBC Indonesia, Rabu (23/9).


Ia mengatakan bila pada kuartal III-2020 saat diumumkan nanti, ekonomi Indonesia minus, maka saat ini sebenarnya proses resesi itu sedang berlangsung. Sarman menegaskan justru yang paling ditakutkan pengusaha adalah bukan soal resesi atau tidak, tapi soal apakah ada kepastian kapan pandemi ini akan berakhir.

"Bagi pengusaha, walau kita masuk resesi, tak terlalu khawatir sekali, asalkan negara segera mengendalikan penyebaran virus corona," katanya.

Menurutnya bila tak ada kepastian maka persoalan ekonomi dan kesehatan makin berkepanjangan, sehingga dunia usaha semakin terpuruk. Kuncinya adalah saat persoalan kesehatan selesai, maka ekonomi dengan sendirinya akan pulih meski perlu waktu. Sarman seolah sedang menegaskan bahwa jangan sampai kondisi ekonomi Indonesia masuk ke fase lebih gawat atau depresi hingga krisis berkepanjangan.

"Kalau berkepanjangan, pengusaha bukan pada posisi takut, tapi persoalan cashflow masing-masing, dan perlu jaminan atau garansi bahwa vaksin kita sudah ada. Sehingga tak menambah PHK atau merumahkan pekerja," katanya.

Saat ini dunia usaha butuh suntikan psikologis soal kepastian kapan berakhirnya pandemi ini. Meski ia mengakui saat ini sinyal ke arah sana sudah ada dengan kepastian vaksin corona pada Desember 2020 yang sedang diupayakan pemerintah.

"Sekarang memang ada angin segar, tinggal realisasi, biar ada efek psikologis," katanya.

Soal konsekuensi bila ekonomi negara terjadi resesi, bisa klik di sini.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading