Ikan RI Ditolak China Gegara Corona di Kemasan, Ini Ceritanya

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
21 September 2020 15:51
Petani menyortir panen ikan hias dari keramba untuk dijual di Setu Cilala, Kab Bogor. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) membantah kabar yang menyebut bahwa seluruh produk ekspor perikanan dari Indonesia telah ditolak otoritas China. Hal ini merespons soal laporan bahwa salah satu kontainer produk perikanan Indonesia yang akan masuk ke Negeri Tirai Bambu terkontaminasi Covid-19.

Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan KKP Rina mengungkapkan bahwa KKP telah mendapat notifikasi dari bea cukai atau General Administration of Customs of the People's Republic of China (GACC) lewat kedutaan besar Indonesia di Beijing per tanggal 18 Sep 2020. Notifikasi tersebut berkaitan ditemukan pada satu kontainer ikan layur 24,5 ton, ekspor dari PT Puri Indah yang terdeteksi terkontaminasi Covid-19.

"Namun temuan itu di kemasan luar, bukan kemasan yang ada ikannya. Karena itu, sementara waktu Pemerintah Tiongkok menangguhkan impor khusus produk perikanan dari PT Puri Indah selama seminggu per 18 September 2020," katanya dalam program power lunch CNBC Indonesia, Senin (21/9).


Enggan kecolongan lagi, sejak 18 September lalu, Rina mengaku telah menghentikan pelayanan health certificate bagi perusahaan tersebut agar tidak bisa ekspor produk lagi ke China. Pada saat bersamaan, beberapa hari ini investigasi bersama di perusahaan tersebut juga berjalan.

"Persyaratan-persyaratan standar harus dipenuhi. Standar keamanan produksi untuk domestik yakni SNI yang sudah dikeluarkan pemerintah yakni Inpres 1 tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup sehat. Sementara dari setiap negara ikuti persyaratan negara tujuan. Pada saat mereka akan ekspor produk, kami badan karantina akan uji peti kepada produk yang akan dikirim tersebut," katanya.

Jika calon eksportir sudah bisa mengikuti ketentuan yang berlaku, maka sudah bisa mengajukan. Namun, kasus ditolaknya produk perikanan Indonesia oleh China tidak perlu membuat khawatir. Pasalnya, yang diblokir hanya satu perusahaan, itu pun dalam waktu yang tidak terlalu lama.

"Memang kita evaluasi 1 perusahaan saja, perusahaan lain sampai hari ini ada 664 perusaan Indonesia yang ekspor ke China. Kita hanya suspend 1 saja dan lain bisa ekspor, dan 1 ini pun 1 minggu setelah itu otomatis ekspor kembali," sebut Rina.

China Bukan yang Utama

China bukan negara importir perikanan terbesar dari Indonesia. Justru negara importir produk perikanan dari Indonesia adalah Amerika Serikat (AS).

"Berdasarkan sistem karantina KKP sampai 2020, pasar terbesar dalam nilai adalah Amerika Serikat, kedua baru China. Dengan komoditas utama udang vaname, ikan tuna, cakalang, cumi-cumi dan udang Windu. itu lima besar yang jadi produk andalan dari Indonesia," kata Rina.

Selain dua negara tersebut, masih banyak potensi pasar dari negara lain yang bisa digunakan. Indonesia bisa ekspansi lebih banyak untuk produk-produknya. Apalagi, Rina menyebut negara-negara yang selama ini menjadi penghasil produk perikanan banyak yang terganggu akibat pandemi Covid-19.

"Ada pasar potensi lain yang cukup besar. Misalnya Jepang, Thailand, Timur Tengah, Rusia dan itu akan jadi pasar kita berikutnya yang harus digarap dan produk perikanan terdistribusi dengan besar keluar RI," sebutnya.

Meski negara luar banyak yang terdampak, Indonesia tidak sepenuhnya demikian. Komoditas perikanan Indonesia terbagi menjadi dua. Yakni yang ikan mati beku dan mati segar. Ikan hidup bisa ikan konsumsi maupun bukan ikan konsumsi. Kemudian satu lagi bahan baku penunjang produk perikanan.

"Ekspor sampai September trennya secara umum, nggak memperhatikan asal negara, besarnya aja semester I-2020 volumenya itu 610 ribu ton dengan nilai cukup besar US$ 2,973,264. Semester 2 volumenya 655.466 ton. Jadi trennya terus naik," sebut Rina.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading