Luhut: Ekspor Baja dari Morowali Ditargetkan Rp 222 T di 2021

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
15 September 2020 17:38
Luhut Binsar Pandjaitan. Dok: Tangkapan layar CNBC Indonesia TV

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menuturkan nilai ekspor baja (stainless steel) dari kawasan industri Morowali, Sulawesi Tengah, pada 2021 ditargetkan mencapai US$ 13-15 miliar atau setara Rp 222 triliun (asumsi kurs Rp 14.800 per US$), naik dari perkiraan tahun ini sebesar US$ 10 miliar atau sekitar Rp 148 triliun (asumsi kurs Rp 14.800 per US$).

Hal ini diungkapkan Luhut dalam acara Sarasehan Virtual 100 Ekonom bertema "Transformasi Ekonomi Indonesia Menuju Negara Maju dan Berdaya Saing" yang ditayangkan CNBC Indonesia, Selasa (15/09/2020).

Luhut mengakui untuk ekspor baja dari kawasan industri Morowali yang dikelola PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) pada tahun ini diperkirakan hanya mencapai US$ 10 miliar, lebih rendah dari target awal sebesar US$ 13 miliar. Menurutnya, hal ini dikarenakan adanya pandemi Covid-19 yang sempat membuat ekspor stainless steel dari kawasan industri ini tertunda.


"Nah tahun depan kita targetkan (ekspor steel dari Morowali) US$ 13 miliar-15 miliar, dan pada 2024 itu akan mencapai US$ 30 miliar. Itu belum termasuk baterai lithium," tuturnya.

Dia pun mengatakan rencana pemerintah China yang akan memberikan stimulus hingga US$ 600 miliar pada tahun depan harus bisa dimanfaatkan Indonesia untuk meningkatkan ekspor ke negara tirai bambu tersebut. Tak lupa, Indonesia juga harus memperbaiki kualitas produk sehingga bisa diserap oleh mereka.

"Bapak Ibu sekalian aware, tahun depan China berikan stimulus US$ 600 miliar tahun depan. Dampaknya apa? Ini peluang ekspor kita, makanya kita genjot untuk perbaiki produk yang bisa dieskpor ke dia," tuturnya.

Untuk itu, menurutnya pembangunan rantai pasok (supply chain) dari hulu ke hilir bukan lah menjadi hal sebatas mimpi lagi, melainkan sudah bisa direalisasikan. Tak hanya hilirisasi nikel sampai steel, tapi menurutnya juga bisa dikembangkan sampai pembangunan pabrik baterai lithium.

"Fokus Indonesia itu hilirisasi nikel. Dulu kita ekspor raw material saja. Dari tahun ke tahun value added makin baik dan tahun ini value added lebih tinggi, lebih bagus," ujarnya.

Dia mengatakan hilirisasi mineral ini telah berdampak signifikan bagi pertumbuhan ekonomi, termasuk pertumbuhan ekonomi daerah. Pemerintah juga akan menggenjot penyerapan tenaga kerja lokal dengan membuat politeknik terlebih dahulu sehingga nantinya siap dipekerjakan di industri smelter mineral tersebut.

"Kami bangun Politenik, yang dulu nggak ada. Sekarang kita perbaiki pendidikan dari SMP, SMA supaya bisa masuk Politeknik itu," ujarnya.

Dikutip dari situs IMIP, di kawasan industri Morowali ini terdapat beberapa fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) nikel hingga menjadi stainlees steel maupun carbon steel. Beberapa perusahaan yang membangun smelter di lokasi ini antara lain PT Sulawesi Mining Investment yang memproduksi 1 juta ton stainless steel slab per tahun dan memiliki kapasitas smelter Nickel Pig Iron (NPI) 300 ribu ton per tahun.

Lalu, ada PT Indonesia Guang Ching Nickel and Stainless Steel Industry yang memiliki kapasitas smelter NPI 600 ribu ton per tahun dan memproduksi stainless steel slab 1 juta ton per tahun.

PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel juga mengoperasikan smelter NPI 600 ribu ton per tahun dan stainless steel slab 1 juta ton per tahun. Selain itu, PT Indonesia Ruipu Nickel and Chrome Alloy juga memproduksi 700 ribu ton per tahun stainless steel coil. Kemudian, PT Tsingshan Steel Indonesia memproduksi carbon steel 1 juta ton per tahun dan smelter NPI 500 ribu ton per tahun.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading