Internasional

Jreng! Tiba-tiba Donald Trump Diperingatkan Raja Salman

News - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
08 September 2020 08:35
FILE PHOTO: Saudi Arabia's King Salman bin Abdulaziz Al Saud, attends a banquet hosted by Shinzo Abe, Japan's Prime Minister, at the prime minister's official residence in Tokyo, Japan, Monday, March 13, 2017.  To match Insight SAUDI-POLITICS/KING REUTERS/Tomohiro Ohsumi/Pool/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump baru-baru ini mendapat 'teguran' dari Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz. Ia memperingatkan Trump soal kemerdekaan Palestina.

Sebagaimana diketahui Trump masih saja mengupayakan perdamaian antara negara-negara Arab dengan Israel. Namun melalui telepon, Raja Salman memberitahu Trump Arab tidak akan menormalisasi hubungan dengan Israel jika solusi yang ditawarkan tidak adil.



Arab hanya akan menormalisasi hubungan dengan Israel asal ada kesepakatan untuk negara Palestina. Ini sesuai dengan usulan kerajaan di 2002 lalu.

"Israel juga wajib menarik penuh pasukan dari wilayah yang direbut sejak perang Timur Tengah 1967 itu," katanya sebagaimana dimuat Reuters, Senin (6/9/2020).




Desakan Trump muncul karena langkah Uni Emirat Arab (UEA) yang membuka hubungan dengan Israel. Kedua negara kini bekerja sama dalam hubungan diplomatik dan penerbangan.

Sebelumnya, Penasihat Gedung Putih Jared Kushner, yang juga menantu Trump, telah secara langsung menemani delegasi Israel ke UEA untuk membicarakan normalisasi hubungan UEA-Israel di Abu Dhabi.

Ia kemudian meneruskan tur ke negara-negara di kawasan Teluk lainnya mulai Selasa, dengan tujuan 'menarik' lebih banyak negara agar mau mengikuti jejak UEA, meski langkah itu menuai banyak kecaman.

Sebagaimana diketahui, Israel dengan Palestina merupakan "musuh abadi", dikarenakan kedua pihak telah terlibat perang sejak ribuan tahun yang lalu. Inti dari perdebatan kedua negara adalah perebutan wilayah.

Menurut Kiro 7, pada mulanya perselisihan terjadi saat wilayah Palestina yang terletak di sepanjang pantai Mediterania, diduduki oleh Israel. Negara ini dibuat dari kesepakatan antara kumpulan bangsa-bangsa setelah Perang Dunia Kedua.

Namun, sejak awal berdiri, Israel dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang membentuknya, langsung mendapat kecaman dari orang-orang Arab di Timur Tengah. Mereka juga mengakui wilayah yang diduduki Israel di sekitar kota suci Yerusalem sebagai milik mereka.

Sejak saat itu, hubungan Israel yang didukung AS, dan Palestina yang didukung negara Arab, terus memburuk. Kedua pihak terus terlibat perselisihan dan perang hingga mengorbankan banyak nyawa dan menghancurkan ekonomi.

Pada Maret 2002, Dewan Liga Negara-negara Arab di Tingkat Puncak membentuk kesepakatan di Beirut. Kesepakatan itu berisi soal rencana perdamaian Israel dengan Palestina.

Menurut The Guardian, salah satu poin dari kesepakatan itu adalah menegaskan kembali resolusi yang diambil pada bulan Juni 1996 pada KTT Arab luar biasa di Kairo.

Bahwa perdamaian yang adil dan komprehensif di Timur Tengah adalah pilihan strategis negara-negara Arab, yang akan dicapai sesuai dengan legalitas internasional, dan yang akan membutuhkan komitmen yang sebanding bagian dari pemerintah Israel.

Selain itu, kesepakatan juga membahas soal penarikan penuh Israel dari semua wilayah Arab yang diduduki sejak Juni 1967.

Termasuk penerimaan Israel atas negara Palestina merdeka, dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya, sebagai imbalan atas pembentukan hubungan normal dalam konteks perdamaian komprehensif dengan Israel.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading