Tanda-Tanda RI Bakal Resesi Kian Dekat, Ini Buktinya

News - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
07 September 2020 16:15
Toko Ritel

Jakarta, CNBC Indonesia - Dua bulan beruntun Indonesia mencatatkan deflasi. Kondisi deflasi masih belum bisa terlepas dari keadaan perekonomian domestik yang masih lesu karena pandemi Covid-19.

Bank Indonesia (BI) memperkirakan bulan September ini deflasi masih akan terjadi. Dalam survei pemantauan harga (SPH) terbarunya, BI memperkirakan deflasi sebesar 0,01% (month on month/mom) masih akan terjadi bulan ini.

Dengan begitu inflasi tahun kalender untuk bulan September akan berada di 0,92% (ytd) dan secara tahunan sebesar 1,46% (yoy). Berkaca pada dua bulan terakhir, deflasi terus terjadi.


Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat deflasi bulan Juli sebesar 0,1% (mom) dengan begitu inflasi secara tahunan berada di angka 1,54% (yoy). Kemudian pada Agustus deflasi tercatat sebesar 0,05% (mom) dan inflasi tahunan di angka 1,32% (yoy).

Update terbaru SPH BI menunjukkan masih banyak komoditas terutama bahan pangan strategis yang mencatatkan penurunan harga. 

"Penyumbang utama deflasi pada periode laporan antara lain berasal dari komoditas daging ayam ras sebesar -0,05% (mtm), bawang merah sebesar -0,03% (mtm), cabai merah dan telur ayam ras masing-masing sebesar -0,02% (mtm), serta cabai rawit, jeruk, dan emas perhiasan masing-masing sebesar -0,01% (mtm)." tulis BI.

Jika melihat pergerakan harga daging ayam ras segar dalam kurun waktu sebulan terakhir memang ada penurunan. Pada 6 Agustus 2020, harga daging ayam ras segar di pasar-pasar tradisional dalam negeri tercatat Rp 33.200/Kg. Namun di akhir pekan lalu harga turun menjadi Rp 30.550/Kg atau turun nyaris 8%.

Harga bawang merah pun juga mengalami penurunan yang cukup dalam. Sebulan terakhir harga komoditas unggulan Brebes ini turun 7,4% dari Rp 32.950/Kg pada 6 Agustus lalu menjadi Rp 30.500/Kg akhir pekan kemarin.

Penurunan harga juga disusul oleh komoditas pangan strategi lain seperti cabai merah dan telur ayam ras segar. Untuk periode yang sama, harga cabai merah turun 16,2% menjadi Rp 30.850/kg dari Rp 36.800/Kg.

Beralih ke telur ayam ras segar, harga komoditas ini mengalami penurunan yang tidak sedalam harga komoditas lain seperti daging ayam ras, bawang merah dan cabai merah. Dalam sebulan, harga telur ayam ras segar di pasar-pasar tradisional seluruh negeri turun 2,86% menjadi Rp 25.400/Kg dari Rp 26.150/Kg.

Sementara itu untuk penurunan harga emas lebih dipicu oleh penurunan harga emas global yang sudah menyentuh level tertingginya dan tertekan akibat penguatan dolar AS. Harga emas yang sudah sangat tinggi tentu membuat minat beli menjadi menurun dan berakhir pada harga logam mulia yang tertekan.

Memang tidak semua harga komoditas anjlok atau mengalami penurunan. Beberapa komoditas bahkan mengalami kenaikan harga. Sebut saja bawang putih dan minyak goreng bermerek dalam kemasan.

Dua harga komoditas pangan tersebut justru naik dalam sebulan terakhir. Harga bawang putih meningkat 16,6% menjadi Rp 26.350/Kg dari Rp 22.600/Kg di pasaran.

Sementara harga minyak goreng juga mengalami kenaikan meski tak sebanyak kenaikan harga bawang putih. Pada periode yang sama harga minyak naik 0,68% dari Rp 14.600/Kg menjadi Rp 14.700/Kg.

Jika bulan September ini masih terjadi deflasi, maka deflasi genap terjadi tiga bulan berturut-turut atau sepanjang kuartal ketiga tahun 2020. Tipisnya angka inflasi atau malah deflasi bisa terjadi akibat banyak faktor mulai dari pasokan yang terjaga dan ekspektasi inflasi yang terkendali.

Namun inflasi yang rendah atau justru deflasi juga bisa mengindikasikan bahwa ada tekanan dari sisi permintaan juga mengingat output selama masa pandemi juga tak bisa diharapkan. Tekanan demand ini menunjukkan ekonomi RI sedang tidak sehat.

Selama PSBB berlangsung untuk menekan angka kenaikan kasus infeksi Covid-19 dilakukan, banyak pekerja baik di sektor formal maupun informal yang terdampak. Jutaan pekerja harus dirumahkan dan terkena PHK. Imbasnya pendapatan menurun dan daya beli tergerus.

Tekanan terhadap daya beli ini juga bisa diamati dari melambatnya tingkat inflasi inti dalam beberapa bulan belakangan ini. Inflasi inti di bulan Agustus tercatat sudah sangat mendekati angka 2%. Padahal sebelumnya masih berada di angka hampir 3% (yoy).

Daya beli yang tergerus jelas menjadi mimpi buruk bagi RI. Pasalnya lebih dari 55% pos pembentuk output perekonomian (PDB) RI disumbang oleh konsumsi domestik. Ketika konsumsi domestik terkontraksi lebih dari 5% (yoy) pada kuartal kedua, pertumbuhan ekonomi pada periode yang sama juga menyusut 5,3%(yoy).

Jika pada kuartal ketiga deflasi terus menerus terjadi, bukan tidak mungkin kontraksi konsumsi rumah tangga masih terjadi dan pertumbuhan ekonomi bisa minus lagi. Kalau kuartal tiga minus lagi. RI sah jatuh ke dalam jurang resesi. 

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading