Beli Baru Terlalu Mahal, Prabowo Pilih Perbaiki Sukhoi Cs

News - Muhammad Choirul Anwar, CNBC Indonesia
04 September 2020 06:10
Menhan Prabowo dan Wapres Ma'ruf Amin

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Pertahanan Letnan Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto menemui Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin di kediaman resmi Wapres yang berlokasi di Jalan Diponegoro Nomor 2, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (3/9/2020) sore.

Seperti dikutip dari siaran pers Juru Bicara Wapres Masduki Baidlowi, Prabowo datang sendiri menemui Kiai Ma'ruf dengan maksud untuk silaturahim. Sebab, sejak pelantikan Kabinet Indonesia Maju, Prabowo dan Kiai Ma'ruf memang belum pernah bertemu secara resmi.

"Sejak pukul 15.00 sampai dengan 15.45 WIB, menhan dan wapres bicara panjang lebar khususnya membahas program food estate untuk menjaga ketahanan pangan," ujar Masduki.

Selain itu, lanjut dia, Prabowo juga melaporkan tentang rencana perbaikan alat utama sistem persenjataan (alutsista). Prabowo mengungkapkan rencana perbaikan pesawat tempur, kapal, dan tank untuk TNI AD, AL, dan AU.

"Menhan menilai apabila membeli baru terlalu mahal dan tidak bisa langsung diadakan. Oleh sebab itu, akan lebih bagus apabila ada perbaikan-perbaikan. Ia mencontohkan pesawat Hercules, Sukhoi, termasuk tank dan kapal-kapal harus diperbaiki agar Indonesia menjadi negara kuat," kata Masduki.

Namun, lanjut dia, Prabowo menyebut aspek yang lebih mendesak adalah membeli peluru. Sebab, Indonesia dinilai Prabowo kekurangan peluru.

"Banyak orang Indonesia pintar menembak, tetapi tidak punya peluru."

Beberapa waktu belakangan, ramai diberitakan Indonesia akan membeli sejumlah alutsista demi memperkuat pertahanan dalam negeri. Terbaru, Indonesia dikabarkan berminat untuk membeli kapal perang atau fregat bekas asal Jerman, yakni kelas Bremen, F 214 Lubeck.

Fregat ini merupakan satu-satunya fregat kelas Bremen yang tersisa di Jerman. Rencana ini mencuat setelah pembelian fregat Iver Huitfeldt dinilai membutuhkan proses waktu yang lama.

Ketika ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jakarta, Rabu (2/9/2020), Wakil Menteri Pertahanan Sakti Wahyu Trenggono membantah hal tersebut.

"Belum, belum. Kita sedang teliti semua. Kita sedang menyiapkan seperti defence masterplan kita seperti apa. Dari situ (terlihat kebutuhannya). Itu kan wacana ya. Saya sih belum, belum ada pembelian," kata Trenggono.

Lebih jauh, Ia menyebut bakal lebih memprioritaskan alutsista yang memiliki kekuatan baik. Di sisi lain, tentu ada harga yang harus dibayar.

"Rencana beli yang baru dong, yang bagus dong," ujar Trenggono.



Isu ketertarikan Indonesia membeli alutsista bekas terlihat dari dokumen-dokumen yang diterima situs khusus pertahanan, www.janes.com. Surat tersebut menyebut pengadaan yang harus diprioritaskan antara tahun 2020 dan 2024, seperti TNI-AL akan memenuhi persyaratan keamanan nasional yang diuraikan dalam fase III cetak biru moderasi militer, Minimum Essential Force (MEF).

Kelas Bremen terdiri dari delapan fregat yang ditugaskan oleh Angkatan Laut Jerman antara tahun 1982 dan 1990. Fregat ini memiliki panjang 130 meter dan dapat menampung 219 awak. Fregat itu juga dapat menerbangkan hingga dua helikopter.

Dalam hal persenjataan, kelas Bremen dilengkapi dengan peluncur rudal anti-kapal RGM-84D Harpoon, rudal anti-udara Raytheon Sea Sparrow, dan empat tabung torpedo 324 mm. Ia juga dilengkapi dengan meriam angkatan laut Oto Melara 76 mm / 62 di posisi utama dan dua meriam 20 mm dari Rheinmetall.

Selain itu adalah pula Rencana Kementerian Pertahanan (Kemenhan) membeli jet tempur bekas Austria, Eurofighter Typhoon. Rencana itu menjadi salah satu sorotan dalam diskusi virtual yang diadakan Jakarta Defence Studies (JDS), Rabu (26/8/2020).

Ketua Harian Persatuan Industri Pertahanan Swasta Nasional (Pinhantanas) Mayor Jenderal TNI (Purn) Jan Pieter Ate mengkritik langkah Kemenhan di bawah kepemimpinan Letnan Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto yang berencana membeli alutsista bekas.

Menurut dia, jika kebijakan alutsista bekas lebih diprioritaskan, maka pertahanan Indonesia semakin tertinggal. Ate menyoroti, pembelian Eurofighter Typhoon yang diproduksi belasan tahun lalu. Fakta terbaru di Austria adalah jet tempur itu sudah tidak dipakai. Apabila dibeli untuk memperkuat TNI, maka kekuatan TNI bisa dipertanyakan.

"Indonesia kok beli bekas terus? Beli teknologi yang baru, supaya indhan (industri pertahanan) kita itu bisa catch up. Jadi kita bicara kita generasi keenam, stealth, big data, musuhmu itu nanti bukan lawan barang bekas, tapi datang bawa teknologi terbaru," kata Ate dikutip dari rilis JDS.

Ia juga menyinggung konsep minimum essential force (MEF) yang harus diganti karena tidak relevan lagi. Menurut Ate, MEF merupakan konsep pertahanan yang tidak merepresentasikan Indonesia sebagai bangsa besar.

Ia bilang konsep MEF dengan rencana strategis (renstra) 2010-2014 dan 2015-2019 menghasilkan pemenuhan fisik yang baru tercapai 63,19% dan kesiapan alutsista hanya 58,37%. Ate menyebut, angka itu menunjukkan ada kesenjangan kesiapan pemenuhan dan penggunaan alutsista TNI mencapai 41 persen.

"Sampai sekarang MEF belum memenuhi kebutuhan kita. Kita negara G-20. Tinggalkan MEF, kita susun kembali pertahanan negara besar," katanya.



[Gambas:Video CNBC]

(miq/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading