Laporan Mengejutkan, Pabrik-Pabrik Tekstil Banyak yang Mati

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
12 August 2020 12:03
FILE PHOTO: Labourers work at a garment factory in Bac Giang province, near Hanoi October 21, 2015. REUTERS/Kham

Jakarta, CNBC Indonesia - Nasib industri tekstil menjadi sorotan termasuk oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Ia mengungkapkan saat ini banyak industri tekstil yang mati alias tak produksi di tengah pandemi.

Untuk itu perlu ada upaya rangsangan langsung ke pelaku usaha dengan menggelontorkan belanja pemerintah ke industri. Ridwan Kamil mengusulkan adanya belanja khusus ke industri tekstil. Selama ini Jawa Barat jadi sentra pabrik industri tekstil dan produk tekstil.

"Kemarin itu ada ide Pak supaya manufaktur kita ini hidup mungkin pemerintah juga belanja di produk mereka yang tidak bisa ekspor. Contohnya ada yang mengusulkan Pak belanja seragam aja, memang terpakai dan bisa menghidupkan tekstil-tekstil yang mati, atau belanja motor-motor produksi dari manufaktur, kita kirim ke desa-desa barangnya terpakai, belanjanya terjadi, manufakturnya hidup juga Pak di semester ini," kata pria yang biasa disapa Kang Emil ini di Posko Penanganan Covid-19 Jabar, Selasa (11/8/2020) di depan Presiden Jokowi.


Ia mengatakan skema belanja semacam ini akan konkret menjawab permasalahan ekonomi yang minus belakangan ini. Ini karena anggaran langsung masuk kantong pelaku usaha.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Filament Indonesia, Redma Gita Wirawasta mengungkapkan memang saat  ini industri tekstil sedang tertekan, penyebabnya tak hanya lesu karena permintaan akibat pandemi covid-19, tapi juga karena serbuan produk impor.

"Kemarin sempat buat produksi, tapi tiba-tiba barang impor di pasar masuk banyak banget. Jadi begitu mau bikin order lagi, dia stop lagi. Sekarang utilisasi masih sekitar 40%, naik sedikit dibanding saat pandemi sekitar 30%. Padahal harusnya bisa 60%. Yang kemarin tutup masih tutup, ada produksi dua line tambah satu line. Tapi jadi nahan, nggak maksimal," kata Redma kepada CNBC Indonesia, Rabu (12/8).


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading