Singapura & Filipina Sah Resesi, RI Masih Abu-Abu?

News - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
06 August 2020 17:06
Ilustrasi Resesi Indonesia. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Berbicara tentang resesi memang tidak ada definisi yang rigid. Namun resesi adalah suatu keniscayaan ketika ekonomi global dirundung oleh pandemi yang skalanya besar dan belum pernah terjadi sebelumnya seperti pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) saat ini. 

Virus corona jenis baru yang menyebar dengan sangat cepat sekaligus mematikan membuat banyak negara memilih untuk melakukan karantina wilayah atau sering disebut lockdown. Konsekuensi dari kebijakan ini jelas mandeknya laju perekonomian. 

Lockdown yang masif dan serentak di berbagai belahan dunia terbukti telah menimbulkan kontraksi output baik di negara maju maupun negara berkembang. Fakta inilah yang pada akhirnya membawa ekonomi pada jurang resesi.


Sampai saat ini definisi resesi yang umum dipakai adalah menurut pandangan ekonom Julius Shiskin pada 1974. Resesi dijabarkan sebagai kontraksi dua kuartal berturut-turut. 

Sementara itu jika menggunakan definisi yang lebih luas versi National Bureau of Economic Research (NBER) resesi definisikan secara lebih luas dengan menggunakan indikator tambahan dari high frequency data seperti tingkat pengangguran, penjualan ritel hingga produksi industri. 

Jika mengacu pada definisi Shiskin, maka Singapura sebagai negara maju di kawasan Asia Tenggara sudah sah mengalami resesi. Hal yang sama juga dialami oleh Filipina sebagai negara berkembang. 

Dua ekonomi ASEAN tersebut sudah mengalami kontraksi dua kuartal berturut-turut baik secara triwulanan (qoq) maupun secara tahunan (yoy). Jika berkaca pada Indonesia, pertumbuhan ekonomi RI sudah terkontraksi dua kuartal berturut-turut secara triwulanan, bahkan kontraksi terjadi sejak akhir tahun lalu. 

Namun PDB RI secara tahunan baru mengalami kontraksi satu kali yakni di kuartal kedua tahun ini. Sehingga apakah RI sudah masuk ke dalam resesi atau belum masih 'abu-abu'. 

Jika menambah indikator lain seperti tingkat pengangguran maka juga susah untuk menentukan apakah RI sudah resesi atau belum, mengingat survei ketenagakerjaan di Tanah Air hanya dilakukan dua kali setahun oleh BPS. 

Namun yang pasti adalah bukan soal resesi atau tidaknya, ada hal yang lebih krusial yaitu bagaimana caranya menyelamatkan ekonomi RI dari kontraksi berlanjut. Jangan sampai kontraksi (penyakit) akut menjadi kronis dan menahun. 

Jika melihat kinerja ekonomi RI kuartal kedua tahun ini yang ambles 5,32% (yoy) penyebabnya adalah konsumsi masyarakat yang anjlok. Konsumsi rumah tangga mengalami kontraksi lebih dari 5%. 

Padahal dengan populasi lebih dari 268 juta jiwa, konsumsi masyarakat adalah tulang punggung ekonomi RI yang menyumbang 55-60% terhadap total PDB. Jadi ketika konsumsi masyarakat menurun karena pendapatan dan daya beli lemah maka ekonomi RI jadi goyah. 

Ditambah lagi saat konsumsi masyarakat RI lesu, perdagangan dan investasi juga tak bisa diharapkan, konsumsi pemerintah justru mengalami penurunan lebih dari 6% (yoy). Serapan anggaran di kementerian dan lembaga masih saja rendah. Padahal belanja pemerintah menjadi satu-satunya harapan yang memiliki dampak spill over. 

Sekali lagi, tak bisa dipungkiri ekonomi RI memang dalam bahaya, kini poin yang harus menjadi fokus utama untuk menyelamatkan bahtera besar berbendera merah putih ini adalah dengan menangani pandemi secara efektif serta melakukan percepatan belanja pemerintah untuk mendongkrak daya beli masyarakat. 

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading