Vaksin Covid-19 Ditemukan, Siapa yang Berhak Dapat Duluan?

News - Monica Wareza, CNBC Indonesia
02 August 2020 21:11
INFOGRAFIS, Kandidat Vaksin yang akan Masuk RI

Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah banyak produsen vaksin yang melakukan uji coba untuk vaksin Covid-19 di berbagai negara, persoalan berikutnya yang muncul adalah siapa yang pertama kali berhak untuk mendapatkan vaksin ini.

Hal ini mencuat di Amerika Serikat (AS). Otoritas kesehatan Amerika Serikat menargetkan selambatnya bulan depan sudah mendapatkan rancangan pedoman vaksinasi untuk warganya.

Direktur National Institutes of Health Francis Collins mengatakan akan banyak orang yang merasa mereka paling berhak untuk mendapatkan vaksin terlebih dahulu.


"Tidak semua orang akan menyukai jawabannya," kata Collins, dilansir dari AP, Minggu (2/8/2020).

Secara umum, kelompok pertama yang paling berhak untuk mendapatkan vaksin adalah petugas kesehatan dan orang-orang yang paling rentan terhadap infeksi.

Namun kemudian Collins melempar ide baru, yakni memprioritaskan orang-orang dengan yang secara geografis berada di wilayah penyebaran virus paling tinggi.

Kemudian, pihak lainnya yang juga perlu menjadi pertimbangan adalah relawan vaksin yang tak semuanya mendapatkan vaksin asli saat melakukan uji coba. "Kita berhutang kepada mereka. Mereka seperti prioritas spesial," katanya.

Tak bisa dipungkiri, jumlah relawan yang melakukan uji coba vaksin ini jumlahnya cukup besar. Di Amerika sendiri, dari tiga vaksin yang diuji coba, yakni Moderna Inc. dan Pfizer Inc. Ketiganya masing-masing melibatkan 30 ribu relawan.

Belum lagi uji coba yang akan dilakukan oleh AstraZeneca, Johnson & Johnson dan Novavax. Juga termasuk vaksin yang dibuat di Cina yang juga diujicobakan di negara-negara lain meski jumlahnya lebih kecil.

Tak hanya Amerika Serikat, Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) juga tengah menghadapi dilema yang sama. Keputusan makin sulit saat negara-negara kaya dunia sudah mulai memojokkan pasar untuk mendapatkan vaksin duluan.

Di Amerika sendiri, Komite Penasihat Praktik Imunisasi yang seharusnya merekomendasikan kepada pemerintah juga tengah mempertimbangkan hal yang sama.

Kongres juga menyewa ahli etika dan ahli vaksin dari National Academy of Medicine untuk memberikan masukan kepada pemerintah terkait hal yang sama.

"Menetapkan prioritas ini membutuhkan akal sehat dan moral," kata Bill Foege, yang merancang strategi vaksinasi yang mengarah pada pemberantasan cacar secara global.

Lebih lanjut, Direktur CDC Robert Redfield mengatakan masyarakat harus melihat keterbukaan mengenai pengalokasian vaksin ini. Menurut dia, ada potensi misinformasi mengenai vaksin ini dan gangguan politik.

CDC sendiri menyarankan untuk memberikan dosis pertama vaksin ini kepada 12 juta penduduk dengan kondisi kesehatan paling kritis, tenaga keamanan nasional dan pekerja penting lainnya.

Selanjutnya 110 juta diberikan kepada orang dengan risiko terpapar Covid-19 paling tinggi, termasuk penduduk berusia di atas 65 tahun yang tinggal di fasilitas perawatan jangka panjang. Atau orang-orang dengan kondisi kesehatan buruk. Populasi lainnya bisa dilakukan setelah itu.

Lalu, di luar bidang kesehatan dan keamanan, yang menjadi pertanyaan apakah pekerja di pabrik unggas dan guru dianggap populasi penting? Lalu bagaimana dengan kemungkinan vaksin yang gagal di antara populasi yang rentan seperti di antara orang yang lebih muda dan lebih sehat?

Pertimbangan lainnya adalah masyarakat miskin yang tinggal di lingkungan padat dan kurang mmemiliki akses untuk perawatan kesehatan. Hal ini disampaikan oleh Sharon Frey dari Universitas St. Louis.

Henry Bernstein dari Northwell Health juga mengungkapkan bahwa penting untuk melakukan vaksinasi kepada seluruh anggota keluarga ketimbang hanya memilih salah satu yang dianggap beresiko tinggi terjangkit virus.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading