Internasional

Kas Negara Bahaya, Ini Deretan Aset yang Siap Dijual Arab!

News - Thea F Arbar, CNBC Indonesia
23 July 2020 16:26
Saudi people dance with their national flag as they are celebrating the Saudi Arabia's 89th National Day in Dubai, United Arab Emirates, Monday, Sept. 23, 2019. (AP Photo/Kamran Jebreili)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Arab Saudi Mohammed al-Jadaan menyebut Pemerintah Arab Saudi bakal menjual aset yang dimilikinya di sektor-sektor yang sebelumnya tidak dipertimbangkan untuk diprivatisasi, di antaranya adalah sektor kesehatan dan pendidikan.

Sebagaimana dilaporkan oleh Reuters pada Rabu (22/7/2020), Mohammed al-Jadaan menyebut sektor yang diprivatisasi setidaknya bakal meraup US$ 50 miliar (Rp 730,1 triliun, asumsi Rp 14.602/US$) dalam 5 tahun ke depan.

Meskipun hal ini baru diumumkan kembali saat Arab Saudi tengah mengalami resesi yang tajam akibat pandemi virus Covid-19, namun sejak awal tahun 2018, salah satu negara di Timur Tengah tersebut memang sudah berniat menjual asetnya untuk memperkuat kas negara.

Laporan International Medical Travel Journal (IMTJ) pada Februari 2018 menyatakan jika Kementerian Kesehatan Arab Saudi mendirikan perusahaan induk dan lima perusahaan regional di bawah rencana untuk memprivatisasi sektor kesehatan.

People play soccer in a public park past a wall art showing Saudi's flag and landmarks, in Jiddah, Saudi Arabia, Monday, Oct. 21, 2019. (AP Photo/Amr Nabil)Foto: Saudi Arabia (AP/Amr Nabil)

Rencana itu memungkinkan kepemilikan asing penuh di sektor kesehatan sehingga kementerian akan menjadi regulator dan bukan penyedia layanan. Pemerintah memandang layanan kesehatan sebagai sektor dengan potensi terbaik untuk privatisasi.

Nantinya para perusahaan swasta yang membeli kepemilikan akan bersaing satu sama lain untuk memberikan perawatan berkualitas lebih baik, dengan setiap perusahaan akan mengelola sekelompok rumah sakit dan pusat kesehatan.

Kerajaan Arab Saudi sendiri berencana untuk memprivatisasi 290 rumah sakit dan 2.300 pusat kesehatan primer hingga tahun 2030 mendatang.

Sedangkan di sektor pendidikan, laporan Reuters pada Mei 2018 menjelaskan jika pihak berwenang Arab Saudi memerintahkan penyerahan 25 sekolah yang dikelola pemerintah untuk dijalankan oleh perusahaan swasta.

Hal ini dilakukan sebagai bagian dari reformasi ekonomi yang dirancang untuk mengurangi tekanan pada keuangan negara. Riyadh mengumumkan bahwa pihaknya bertujuan untuk menghasilkan 35 miliar hingga 40 miliar riyal dari pendapatan negara non-minyak dari privatisasi pada tahun 2020.

Kabinet menteri mempercayakan komite pengawas untuk sektor pendidikan dengan tugas mengimplementasikan inisiatif "Sekolah Independen", sebagaimana dilaporkan Saudi Press Agency tanpa memberikan perincian.

Inisiatif ini merupakan bagian dari rencana reformasi kementerian pendidikan di bawah Visi 2030, sebuah program yang tengah diperjuangkan oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) untuk merombak ekonomi negara tersebut.

Pada masa lalu, pemerintah membangun infrastruktur pendidikan semacam itu hanya dari dana sendiri. Namun karena adanya penurunan harga minyak global pada tahun 2014, hal itu sangat membebani keuangan negara, mendorong pemerintah untuk mencari partisipasi dari investor swasta.

Kemudian pada April 2020, Pemerintah Arab Saudi menyetujui daftar aset pemerintah yang direncanakan untuk diprivatisasi di pasar sahamnya.

"Aset, sektor, dan layanan yang direncanakan untuk privatisasi akan terdaftar di pasar saham Saudi melalui penawaran umum perdana (IPO) langsung atau tidak langsung," kata pemerintah dalam pernyataan yang dilaporkan kantor berita pemerintah SPA, dikutip dari The National.

"Penawaran publik tidak langsung untuk aset tersebut akan melalui perusahaan atau perusahaan yang didirikan oleh Pusat Privatisasi Nasional, yang memiliki saham pemerintah dalam proyek-proyek ini untuk dicatatkan di pasar modal Saudi," tambah pernyataan itu.

Arab Saudi akhirnya berencana untuk mengumpulkan sebanyak US$ 200 miliar melalui privatisasi. Privatisasi, meningkatkan efisiensi perusahaan milik negara, dan mengolah industri lokal adalah bagian dari roadmap ekonomi Visi 2030 negara kerajaan tersebut.

Rencana ini bertujuan untuk memperluas sektor swasta, mendiversifikasi ekonomi dan mengurangi ketergantungan negara pada hidrokarbon.

Sebelumnya pada tahun lalu, kerajaan mengumpulkan sekitar US$ 30 miliar dari IPO Saudi Aramco di Riyadh, yang merupakan perusahaan paling menguntungkan di dunia.

Dalam sembilan bulan pertama tahun 2019, Aramco mengumumkan laba US$ 68,19 miliar dari pendapatan US$ 217,1 miliar. Perusahaan menyumbang satu dari setiap delapan barel minyak mentah yang diproduksi. Pada 2018 berhasil memproduksi 13,6 juta barel minyak per hari setara, termasuk 10,3 juta BPD minyak mentah.

Sayangnya tahun ini Arab Saudi tengah mengalami resesi yang tajam tahun ini, dengan harga minyak yang anjlok, membuat pendapatan dari sektor minyak jeblok.

International Monetary Fund (IMF) memperkirakan terjadinya kontraksi hingga 6,8% tahun 2020 ini. Namun Jadaan mengatakan kontraksinya bisa lebih rendah dari angka tersebut.

Arab Saudi telah melipatgandakan pajak pertambahan nilai menjadi 15% bulan ini karena berupaya meningkatkan kas negara. Selain itu, Arab Saudi telah mengumpulkan US$ 12 miliar melalui obligasi internasional sejauh ini. "(Ini) akan meningkatkan penerbitan utang lokal dibandingkan dengan rencana aslinya," tukas Jadaan.



[Gambas:Video CNBC]

(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading