AS-China Makin Panas, Pelaku Pasar Kudu Piye?

News - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
23 July 2020 11:07
INFOGRAFIS, Damai Perang Dagang As-China Berujung Kebuntuan

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dengan China kembali meningkat pasca Washington memerintahkan penutupan konsulat Negeri Panda di Houston Rabu (22/7/2020). AS memberikan waktu 72 jam bagi konsulat China di Houston, Texas, untuk tutup.

Alasannya adalah karena menganggap lembaga perwakilan resmi China itu melakukan aksi mata-mata. AS menuding China tidak menghormati hukum dan peraturan negara penerima.

"Ini dilakukan untuk memproteksi properti intelektual AS dan informasi rahasia AS," kata Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Morgan Ortagus sebagaimana ditulis CNBC International.



Kementerian Luar Negeri China menyebut langkah AS itu sebagai "eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya". China juga meminta AS membatalkan keinginannya dan mengatakan akan ada langkah balasan atas tindakan itu.

"Penutupan konsulat jenderal China di Houston secara sepihak dalam waktu singkat adalah peningkatan (eskalasi) yang belum pernah terjadi sebelumnya dari tindakannya terhadap China," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Wang Wenbin pada briefing berita harian di The Associated Press.

"AS harus mencabut keputusannya yang salah ... China pasti akan bereaksi dengan tindakan tegas," kata juru bicara kementerian lainnya Hua Chunying, menurut Reuters.

Lalu, apa arti ketegangan yang meningkat antara kedua negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu?

Menurut investor miliarder Bill Ackman, meningkatnya ketegangan kedua negara berarti bahwa para pelaku pasar harus berhati-hati saat ini.

"Kami mencatatkan kenaikan (bullish) jangka panjang di pasar. Kami terus memiliki posisi yang sama dengan yang kami miliki - Hilton, Starbucks, Lowe's, Restaurant Brands. Kami kemudian berinvestasi US$ 500 juta di sebuah perusahaan pengembangan real estat dengan operasi besar di Houston. Jelas, kami bullish di negara ini," katanya.

"Tapi saya akan mengatakan saya berhati-hati di pasar selama periode waktu berikutnya, dan kami memiliki hari ini, posisi short dalam indeks dengan imbal hasil tinggi. Kami mencatatkan penurunan (bearish) pada perusahaan yang sangat berpengaruh. Sampai batas tertentu, saya melihatnya sebagai batasan."

Sementara itu, Jim Cramer pembawa acara "Mad Money" di CNBC International, meminta investor berhati-hati saat mengalirkan dana di perusahaan-perusahaan yang rentan jika ketegangan meningkat.

"Apa yang saya temukan adalah Anda akan mendapatkan pijakan di pasar saham, dan hampir seolah-olah 'OK, mari kita gunakan pijakan itu untuk dapat menghancurkan orang-orang China' ... China, saya pikir kita semua setuju, telah memata-matai," ujarnya.

"Saya tidak berpikir ada orang yang tidak setuju dengan itu. Orang Inggris baru saja mengabaikan Huawei, tetapi yang membuat saya khawatir adalah kita akan melihat laporan pendapatan Apple. Dan saya tidak berpikir presiden memiliki pandangan tentang Apple, tetapi Apple, perusahaan itu membutuhkan China. Dan saya pikir Starbucks membutuhkan China, Nike membutuhkan China, semua perusahaan itu biasanya membutuhkan China kecuali Facebook dan Alphabet."

Di sisi lain, Andrew Slimmon, manajer portofolio senior di Morgan Stanley Investment Management, mengatakan bahwa ketegangan AS-China bisa menjadi satu faktor yang mendorong kenaikan saham di pasar Asia.

"Yang menarik tentang ketegangan China adalah pasar saham China naik [Selasa] malam. Taiwan naik [Selasa] malam, China, Shanghai [Komposit] naik 13% bulan ini, dan ketegangan pasti belum berkurang selama ini," ujarnya.

"Ini adalah pasar berkinerja terbaik kedua di dunia di belakang Nasdaq, jadi ada hal lain yang memaksa pasar Asia ini untuk melakukannya dengan sangat baik dan saya pikir, sementara banyak yang fokus pada politik, masalahnya adalah bahwa dolar mengalami depresiasi dan mendorong uang kembali ke beberapa pasar berkembang di Asia."


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading